KITAINDONESIASATU.COM – Panggung Nuswara Depok 2026 menjadi ruang bagi anak-anak istimewa untuk menunjukkan kreativitas mereka melalui karya batik. Enam anak dari Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Spectrum Milenial tampil memamerkan karya batik anak istimewa melalui fashion dance.
Penampilan tersebut menjadi salah satu momen menarik dalam event Nuswara Depok 2026 yang tidak hanya menampilkan karya fesyen lokal, tetapi juga memberikan kesempatan bagi anak-anak berkebutuhan khusus untuk memperkenalkan hasil kreativitas mereka kepada masyarakat.
Dengan iringan lagu C.H.R.I.S.Y.E dari Diskoria, enam anak Spectrum Milenial memperlihatkan kain batik yang dibuat dengan cara unik, yakni memanfaatkan bahan daur ulang.
Karya tersebut menampilkan motif Gong Si bolong yang dikombinasikan dengan kreativitas mereka. Selain itu, terdapat pula motif abstrak dengan beragam warna yang menunjukkan karakter dan kebebasan berekspresi masing-masing anak.
Penampilan anak-anak Spectrum Milenial tersebut mendapat perhatian dari para tamu undangan yang memenuhi ITC Depok, mulai dari Ketua Dekranasda Kota Depok, Siti Barkah Hasanah, perangkat daerah, komunitas fesyen, dan tamu lainnya.
“Anak-anak hebat dan luar biasa,” ujar Ketua Dekranasda Kota Depok, Siti Barkah Hasanah, Kamis 24 September 2026.
Membatik Jadi Aktivitas Kreatif Anak Spectrum Milenial
Pembina Spectrum Milenial, Junaidi mengatakan kegiatan membatik menjadi salah satu aktivitas yang dilakukan pelajarnya di sekolah.
Dalam prosesnya, mereka menggunakan cap berbahan kertas yang dibuat dari limbah kardus sebagai alternatif pengganti cap tembaga.
“Awalnya kita ingin membatik itu menjadi bagian dari terapi untuk anak-anak,” jelasnya.
Kegiatan membatik tersebut mulai dilakukan sejak pandemi Covid-19.
Saat itu, kata Junaidi, anak-anak tidak memiliki banyak kegiatan sehingga mereka diajak untuk membatik di rumah maupun di sekolah.
Hasil karya mereka kemudian mulai dikenalkan kepada masyarakat melalui berbagai kegiatan.
Menurutnya, membatik juga telah menjadi salah satu ciri khas dari sekolahnya.
Setiap karya yang dibuat anak-anak memiliki karakter yang berbeda karena mereka diberikan kebebasan untuk menentukan motif, warna, hingga penempatan pola sesuai kreativitas masing-masing.
Teknik Membatik Disesuaikan dengan Kemampuan Anak
Anak-anak yang mengikuti kegiatan membatik tersebut mayoritas berasal dari jenjang SMP dan SMA.
Sementara untuk anak SD, kegiatan yang dilakukan lebih sederhana, seperti membuat motif dengan teknik ciprat, karena mempertimbangkan kesiapan motorik mereka.
Melalui kegiatan tersebut, anak-anak tidak hanya belajar menghasilkan karya batik, tetapi juga mendapatkan ruang untuk mengekspresikan kreativitas melalui pilihan motif, warna, dan pola.
Karya Anak Berkebutuhan Khusus Diharapkan Diterima Masyarakat
Junaidi berharap hasil kreativitas anak-anak istimewa dapat diterima di lingkungan masyarakat.
Menurutnya, karya yang dihasilkan dapat menjadi salah satu cara untuk menunjukkan bahwa anak berkebutuhan khusus juga memiliki kemampuan dan kreativitas.
“Harapannya semoga anak-anak ini bisa berkarya dan berkembang, diterima di masyarakat, sehingga tidak ada stigma negatif terhadap mereka. Setelah lulus, saya berharap mereka punya karya sendiri. Kalau bukan batik, mereka punya karya yang lain,” pungkasnya.




