News

ASB dari Super Cup ke Suara Rakyat, Perjuangan Politisi yang Tak Mau Mewah

×

ASB dari Super Cup ke Suara Rakyat, Perjuangan Politisi yang Tak Mau Mewah

Sebarkan artikel ini
asb
Akhmad Saeful Bahri, mengendarai Honda Super Cub 800 keluaran tahun 1982 (KIS/NICKO)

“Saya dari kecil hingga dewasa, bahkan sampai hari ini, masih menggunakan motor ini. Motor ini adalah saksi bisu dari setiap langkah yang saya tempuh, dari sekolah, kuliah, hingga bekerja,” tuturnya dengan nada penuh rasa syukur.

Melawan Stigma Kemewahan

Kegemaran ASB terhadap motor antik bukan hanya sekadar hobi pribadi. Di tengah citra bahwa politisi kerap diasosiasikan dengan kemewahan, ASB berusaha keras mematahkan stigma tersebut.

Menurutnya, menjadi anggota dewan bukanlah soal peningkatan taraf hidup pribadi atau memperlihatkan kekayaan, melainkan tentang pengabdian kepada masyarakat.

“Menghapus stigma tentang kemewahan bagi anggota dewan penting untuk dilakukan. Saya ingin menunjukkan bahwa jabatan ini adalah sarana untuk melayani masyarakat, bukan untuk berfoya-foya,” ujar ASB tegas.

Ia menambahkan bahwa kesederhanaan adalah salah satu nilai yang harus dijunjung tinggi oleh seorang politisi, terutama mereka yang bekerja untuk memperjuangkan aspirasi rakyat. 

“Bukan kemewahan yang harus ditonjolkan, melainkan kesederhanaan dan dedikasi dalam bekerja untuk rakyat,” imbuhnya.

Merawat Sejarah, Menjaga Kesederhanaan

Selain motor antik, ASB juga dikenal sebagai kolektor kendaraan klasik. Dari Vespa hingga sepeda kuno, ia menyimpan berbagai barang klasik yang menjadi bagian dari kehidupannya. Namun, bagi ASB, merawat barang klasik bukan hanya soal hobi, melainkan juga soal menghargai sejarah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *