KITAINDONESIASATU.COM– Amerika Serikat turut serta dalam penyelidikan kecelakaan pesawat Jeju Air dengan mengirimkan perwakilan dari Badan Keselamatan Transportasi Nasional AS (NTSB), Administrasi Penerbangan Federal, serta pembuat pesawat Boeing.
Dalam pernyataan resmi, NTSB mengungkapkan bahwa pihaknya telah mengirimkan tiga penyelidik untuk membantu dalam investigasi. Beberapa dari mereka memiliki spesialisasi dalam aspek operasional dan kelaikan udara.
“Jika kami membutuhkan lebih banyak spesialis, kami akan mengirimkan mereka,” ujar Ketua NTSB, Jennifer Homendy, sebagaimana dikutip dari berbagai sumber.
Tim penyelidik saat ini sedang mempertimbangkan beberapa kemungkinan penyebab kecelakaan, termasuk serangan burung, kerusakan sistem kontrol pesawat, serta pilot yang diduga terburu-buru untuk melakukan pendaratan setelah menyatakan keadaan darurat.
Selain itu, para pejabat juga menghadapi pertanyaan mengenai desain fitur bandara, terutama tanggul besar yang terbuat dari tanah dan beton di dekat ujung landasan pacu yang digunakan oleh peralatan navigasi.
Pesawat tersebut menabrak tanggul dengan kecepatan tinggi dan meledak menjadi bola api. Beberapa bagian tubuh penumpang terlempar ke ladang sekitar, dan sebagian besar pesawat hancur dalam kobaran api.
“Sayangnya, benda tersebut adalah alasan mengapa semua orang meninggal, karena mereka benar-benar menabrak struktur beton,” kata Kapten Ross ‘Rusty’ Aimer, Kepala Eksekutif Aero Consulting Experts, kepada Reuters. “Seharusnya beton itu tidak ada di sana,” lanjutnya.
Sebelumnya, Penjabat Presiden Korea Selatan, Choi Sang-mok, telah memerintahkan pemeriksaan keselamatan darurat terhadap seluruh operasi maskapai penerbangan negara tersebut. Perekam data penerbangan atau “kotak hitam” ditemukan di lokasi kecelakaan, meskipun kehilangan konektor utama.
Terkait hal ini, Kementerian Transportasi Korea Selatan mengungkapkan bahwa pihak berwenang sedang berupaya mengekstrak data dari kotak hitam tersebut, sementara pengambilan data dari perekam suara kokpit telah dimulai.


