Diantaranya, pemimpin berbasis aktivisme dan kolaborasi. Kata Deni, pengalaman Atang sebagai seorang aktivis mahasiswa dan mantan Presiden BEM KM IPB menjadi fondasi kuat bagi pendekatannya dalam memimpin.
Atang dinilai memahami pentingnya partisipasi masyarakat dalam proses pembangunan dan selalu berupaya menjembatani dialog antara pemerintah dan masyarakat.
“Kepemimpinan berbasis aktivisme yang inklusif ini menjadikan Atang sebagai sosok yang tepat untuk menggerakkan Kota Bogor menuju arah yang lebih maju dan berdaya saing,” paparnya.
Kedua, Atang-Annida berkomitmen untuk menciptakan kebijakan yang memprioritaskan pendidikan dan pengembangan kapasitas generasi muda.
Kata Deni, pengalaman Atang dalam memperjuangkan pendidikan berkualitas bagi semua lapisan masyarakat, serta dedikasi Annida dalam isu sosial, menjadikan mereka pasangan yang mampu merancang program-program strategis yang memperkuat peran pemuda dalam pembangunan kota.
Dalam sisi kesejahteraan masyarakat melalui ekonomi berkeadilan, lanjut Deni, Atang-Annida membawa visi ekonomi inklusif yang mendorong pertumbuhan berbasis pada pemberdayaan UMKM dan ekonomi kreatif.
“Kami percaya bahwa pendekatan ini sangat relevan bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat Bogor, terutama di tengah tantangan global yang semakin kompleks. Atang-Annida juga berkomitmen untuk mendorong kebijakan yang adil dan berkelanjutan, agar tidak ada masyarakat yang tertinggal,” jelas Deni.
Dalam kapasitasnya sebagai Ketua DPRD Kota Bogor, Atang dinilai menunjukkan dedikasi dalam memperjuangkan transparansi dan akuntabilitas pemerintah.


