KITAINDONESIASATU.COM – Istilah ‘istidraj’, yang maknanya dijelaskan tersirat dalam Al-Qur’an (misalnya QS. Al-A’raf: 182-183), semakin relevan sebagai peringatan di tengah budaya serba cepat dan materialistis saat ini.
Secara bahasa, istidraj berarti “naik setahap demi setahap”, namun dalam konteks akidah Islam, ia merujuk pada kondisi di mana Allah terus melimpahkan kenikmatan, harta, atau kesuksesan kepada seseorang, meskipun ia terus bergelimang dalam kemaksiatan, kelalaian, dan menjauhi perintah agama.
Fenomena ini sering disebut sebagai “jebakan halus”. Di era modern, istidraj dapat berwujud nyata dalam berbagai bentuk. Misalnya, seseorang yang sukses besar dalam karier, memiliki kekayaan tak terhingga, atau meraih popularitas tinggi (influencer) tetapi sangat lalai dalam ibadah wajib, kikir, bahkan melakukan praktik bisnis yang curang, namun anehnya hidupnya seolah mulus dan tidak pernah mendapat musibah berarti.
Kenikmatan yang datang bertubi-tubi ini membuat pelakunya merasa aman, mengira bahwa kesuksesan tersebut adalah tanda keridaan atau bahkan hasil murni dari kehebatannya sendiri, bukan ujian. Rasa sombong dan puas diri ini justru menjauhkan hati dari Allah.
Para ulama kontemporer mengingatkan bahwa istidraj adalah hukuman yang ditunda. Allah membiarkan hamba tersebut terlena dalam kesenangan dunia hingga ia lupa diri sepenuhnya. Puncaknya, nikmat tersebut akan dicabut secara mendadak, seringkali dalam bentuk azab yang tak terduga, yang menyebabkan penyesalan di dunia dan akhirat.
Ustadz Pepeng Effendi S.Ag, salah saat penceramah di Jakarta mengungkapkan, untuk menghindari jebakan istidraj, umat Muslim dituntut untuk selalu mengaitkan setiap nikmat dunia dengan rasa syukur dan peningkatan ketaatan.
Dijelaskan, harta yang bertambah harus diimbangi dengan zakat dan sedekah. Kesuksesan harus dibarengi dengan kerendahan hati dan ketekunan beribadah, agar nikmat tersebut menjadi berkah, bukan pendorong menuju kebinasaan. (*)


