KITAINDONESIASATU.COM – Sejak 2015, Fajar Suryati atau yang akrab disapa Yu Jumilah, konsisten memperkenalkan jenang—bubur tradisional Jawa—kepada masyarakat, khususnya generasi muda.
Melalui “Jenang Yu Jumilah”, ia menghadirkan sembilan varian bubur khas yang unik dan kaya rasa, yang hingga kini tetap populer di kalangan pecinta kuliner tradisional.
Kesembilan varian tersebut antara lain bubur sumsum pandan, bubur lubi-lubi, monte, cendil ketan, candil singkong, pati telor, ketan hitam, dan ketan putih. Semua disajikan dengan cita rasa otentik yang konsisten dari waktu ke waktu.
“Untuk bubur sumsum, saya pakai daun pandan asli agar aromanya lebih wangi, santan juga dari perasan pertama sehingga rasanya gurih. Sedangkan bubur lubi-lubi itu paling kuno, berisi ubi dan nangka dengan topping tambahan, rasanya gurih sekaligus manis,” jelas Fajar Suryati kepada media belum lama ini.
Keunikan jenang buatannya terletak pada bahan alami dan proses tradisional.
Misalnya, candil singkong dibuat dari singkong parut manual, sedangkan pati telor dimasak dengan tepung tapioka dan rempah-rempah seperti cengkeh lalu diberi taburan kelapa muda.
Untuk bubur ketan hitam, warna pekatnya bukan dari bahan kimia, melainkan pewarna alami dari padi kering. Ada juga jenang ngangerang dari beras ketan putih dengan gula aren.
“Bikin jenang itu butuh ketelatenan, harus terus diaduk selama lebih dari satu jam karena santannya kental. Makanya tidak semua orang mau membuatnya. Tapi kalau pembeli puas dan makanannya habis, saya ikut senang dan bangga,” ujarnya.
Harga jenang cukup terjangkau, Rp10.000 per porsi untuk makan di tempat dan Rp12.500 untuk dibawa pulang dengan porsi lebih besar.

