… lanjutan
Dan yang terakhir Makam Uyut Ambiya. Makam yang pernah membuat heboh seantaro Nusantara karena makam ini mendadak membesar seperti orang hamil. Dari beberapa hikayat bahwa Uyut Ambiya ini salah satu pemimpin perang Banten versus Kompeni Belanda. Sebagian orang ada yang mengatakan Uyut Ambiya ini orang yang sama dengan Buyut Talim.
Jika di tinjau dari persebaran bahasa. Di Balaraja terdapat pulau bahasa Jawa Banten yang berada di Kampung Pekong Desa Saga Kecamatan Balaraja. Kemiripan kosa kata dengan bahasa di bantaran sungai dan pesisir pantai di wilayah kerajaan Banten. Dari bukti-bukti tersebut Balaraja sangat kental dengan perjuangan Banten melawan Kompeni Belanda yang berada di batas demarkasi sebelah Timur Cisadane. Wajar saja sebab wilayah ini di belah oleh sungai Cimanceri sebagai jalan menuju Batavia pada waktu itu.
Adapun versi etimologi, Balaraja yang kedua. Kata Balaraja berasal dari dua kata, Yakni kata bala tentara raja kemudian untuk memudahkan sebuta di singkat menjadi balaraja. Versi ini juga mengakui bahwa bala tentara raja ini berasal dari Banten.
Jika kita kaitkan dengan bukti yang tersebar di sekitaran kota ini sangat cocok. Sebab bukti makam yang berada di sekitaran Balaraja pun di penuhi oleh makam para pejuang yang berasal dari Banten.
Nama Kota Balaraja pernah di interpretasi oleh Emha Ainun Nadjib (Cak Nun) dalam tausiyah di Masjid At-Taqwa, Tanjung Karang, Bandar Lampung, 1998. Ketika itu Cak Nun mengatakan bahwa tanda-tanda kejatuhan Soeharto di tandai oleh membesarnya (baca: Hamilnya) makam para pejuang Banten di Desa Tobat.
Sign pada kata “Bala” bermakna bencana dan “raja” itu presiden yang berkuasa dalam hal ini, Soeharto. Tempat makam tersebut berada di desa Tobat. Bencana bagi presiden menandakan bencana yang menimpa Soeharto dan kroninya untuk segera bertobat. Kata bertobat itu merujuk pada nama desa tempat makam berada. (Paguyubanbalaraja.blogspot.com)




