Ia menjelaskan, kuah orem-orem lebih sederhana, hanya menggunakan santan dan tempe tanpa campuran sayur lainnya.
Saat ini, harga seporsi orem-orem di warung ini adalah Rp15.000 untuk varian ayam, dan Rp10.000 untuk varian biasa. Meskipun harga bahan baku terus naik, Alex tetap mempertahankan cita rasa otentik tanpa menaikkan harga terlalu tinggi.
Terletak dekat dengan Universitas Negeri Malang (UM) dan Universitas Brawijaya (UB), warung Orem-Orem Arema menjadi favorit di kalangan mahasiswa.
Yang menarik, pelanggan lama yang sudah lulus, konon banyak yang sengaja datang untuk menikmati hidangan tersebut, ketika memiliki waktu lalu.
Mereka sengaja datang untuk hidangan yang sudah menjadi bagian dari kenangan masa kuliah mereka.
Dengan usaha kuliner ini, Alex berharap dapat terus bertahan dan memberi manfaat bagi banyak orang.
Selain itu, ia bercita-cita untuk menghajikan orang tuanya sebagai bentuk rasa syukur atas perjalanan panjang dan kesuksesan bisnis yang diraihnya. ***




