KITAINDONESIASATU.COM – Kawah Ijen merupakan danau kawah belerang terbesar di Pulau Jawa, dengan kedalaman sekitar 200 meter dan volume air mencapai 36 juta meter kubik.
Kawah ini dikelilingi oleh bentangan batuan alami yang terbentuk selama bertahun-tahun. Air kawah yang berwarna biru kehijauan dipenuhi uap asam yang mengepul, menciptakan pemandangan dramatis dengan awan belerang yang terus berputar di udara.
Di dalamnya, terdapat bebatuan dalam berbagai bentuk dan warna, menjadikannya taman batu alami yang mengagumkan.
Salah satu pemandangan menarik di Kawah Ijen adalah aktivitas para penambang belerang.
Setiap hari, para pekerja mendaki dan menuruni lereng curam untuk mengangkut belerang dalam keranjang yang bisa mencapai berat 70 kg.
Dengan berjalan kaki, mereka menempuh perjalanan hingga 17 km menuju pabrik di Banyuwangi.
Meski berisiko tinggi, pekerjaan ini tetap mereka jalani demi penghidupan, dengan sistem pembayaran berdasarkan berat belerang yang berhasil dikumpulkan.
Kawah Ijen berada di kawasan Dataran Tinggi Ijen, yang merupakan bagian dari Cagar Alam Ijen-Merapi Malang.
Lokasi ini berdekatan dengan Taman Nasional Baluran di timur laut dan dapat dilihat dari udara saat penerbangan melintas antara Denpasar, Surabaya, Yogyakarta, atau Jakarta.
Danau kawahnya sendiri berada pada ketinggian sekitar 2.300 meter di atas permukaan laut dan membentuk gunung berapi kembar dengan Gunung Merapi yang kini sudah tidak aktif.
Kawah ini dapat diakses melalui dua jalur, dari timur dan barat, dengan kendaraan hingga titik tertentu.
Selanjutnya, perjalanan harus dilanjutkan dengan berjalan kaki sejauh 3 km melalui jalur hutan.
Rute yang lebih populer adalah jalur pendakian yang memakan waktu sekitar satu setengah jam dari titik akhir jalan hingga bibir kawah. Jika ingin menjelajahi seluruh area danau, perjalanan dapat memakan waktu sehari penuh.
Di malam hari, suhu di sekitar kawah bisa turun hingga 5° Celsius, sehingga disarankan untuk mengenakan pakaian hangat.
Bagi yang ingin bermalam, tersedia tempat berlindung sederhana di Jampit atau stasiun vulkanologi lama yang kini digunakan oleh para penambang belerang, meski harus memperoleh izin terlebih dahulu.
Dahulu, pengangkutan belerang dilakukan dengan kuda, tetapi medan yang terjal membuat metode ini kurang praktis.
Kini, tambang belerang di Kawah Ijen mampu menghasilkan sekitar sembilan hingga dua belas ton belerang per hari.
Jalur yang digunakan para penambang telah meninggalkan jejak sulfur berwarna kuning di sepanjang lereng gunung, sehingga mudah dikenali oleh pendaki.
Waktu terbaik untuk menikmati panorama Kawah Ijen adalah sekitar pukul 8 hingga 9 pagi, ketika kabut belum terlalu tebal dan aktivitas penambangan sedang berlangsung.
Kawah Ijen tidak hanya menawarkan keindahan alam yang luar biasa, tetapi juga menggambarkan perjuangan para penambang belerang yang bekerja di tengah kondisi ekstrem.-***



