KITAINDONESIASATU.COM – Kitab Al-Hikam, mahakarya spiritual karya ulama besar asal Mesir, Syekh Ibnu Atha’illah as-Sakandari, tetap menjadi rujukan utama dalam ilmu tasawuf.
Pada pasal pertama kitab legendaris ini, beliau menuliskan sebuah untaian hikmah mendalam: “Di antara tanda-tanda bersandarnya seseorang pada amal perbuatannya, adalah berkurangnya harapan kepada rahmat Allah ketika ia melakukan kesalahan atau dosa.”
Pasal pembuka ini mengkritik tajam ego manusia yang sering kali merasa mampu menggapai keselamatan dan surga hanya lewat hitungan formalitas ibadah.
Menurut Ibnu Atha’illah, seorang hamba yang benar-benar mengenal Tuhannya tidak akan menjadikan amalnya sebagai jaminan kebaikan di masa depan.
Jika seseorang langsung merasa putus asa dan kehilangan harapan akan ampunan Allah saat tergelincir dalam dosa, hal itu menjadi bukti kuat bahwa selama ini ia tidak bersandar pada kasih sayang Allah, melainkan pada kehebatan dirinya sendiri.
Lewat Pasal 1 ini, Al-Hikam mengajak umat untuk membersihkan tauhid dan menata ulang niat hati. Target spiritual tertinggi bukanlah sekadar memperbanyak kuantitas ritual, melainkan menumbuhkan keikhlasan total serta kepasrahan penuh kepada rahmat-Nya.(*)




