KITAINDONESIASATU.COM – Dalam karya bahagianya, Al-Hikam, Syekh Ibn Atha’illah as-Sakandari merumuskan hikmah ke-18 yang berfokus pada pentingnya menjaga pengharapan kepada Allah SWT.
Beliau mengingatkan bahwa kegagalan atau terlambatnya pengabulan doa hendaknya tidak pernah membuat seorang hamba kehilangan prasangka baik serta merasa putus asa dari rahmat-Nya.
Hikmah ini mengajarkan bahwa Allah memberikan apa yang dibutuhkan oleh hamba-Nya, bukan sekadar apa yang diinginkan. Selain itu, Waktu Pengabulan Doa senantiasa mengikuti ketetapan hikmah-Nya yang Mahaluas, bukan berdasarkan jadwal atau standar kesabaran manusia yang terbatas.
Keinginan manusia kerap didorong oleh hawa nafsu, sedangkan karunia-Nya selalu disesuaikan dengan kemaslahatan sejati hamba tersebut.
Memahami hakikat ini menjadi fondasi penting untuk membentuk jiwa yang tangguh dan tenang. Ketika doa belum tampak membuahkan hasil, seorang hamba diajak untuk terus berbaik sangka dan memperhalus rasa syukurnya.
Pada akhirnya, hikmah ke-18 menuntun kita untuk menyadari bahwa kedekatan dengan Sang Pencipta dalam proses menanti doa adalah hadiah yang jauh lebih berharga daripada wujud pengabulan itu sendiri.(*)




