KITAINDONESIASATU.COM — Kitab Al-Hikam karya Syekh Ibn ‘Atha’illah as-Sakandari senantiasa menawarkan kedalaman spiritual bagi pencari kebenaran. Hikmah ke-21 menggarisbawahi salah satu prinsip paling mendasar dalam tasawuf: pembebasan hati dari ketergantungan pada makhluk.
Syekh Ibn ‘Atha’illah mengajarkan bahwa bersandar pada makhluk—baik harta, jabatan, maupun bantuan sesama manusia—merupakan bentuk ilusi yang menutupi hakikat Tauhid. Ketika seseorang menggantungkan harapan kepada selain Allah, ia pada hakikatnya sedang mengundang kekecewaan dan kecemasan.
"Tuntutanmu kepada selain-Nya menunjukkan kurangnya pengenalanmu (makrifat) kepada-Nya."
Secara mendalam, hikmah ini mengajak setiap Muslim untuk mengoreksi kembali arah ketergantungan hati. Meminta dan berharap kepada makhluk menandakan bahwa hati belum mengenal ke Mahasempurnaan Allah sebagai Sang Penjamin Rezeki (Ar-Razzaq) dan Maha Pengatur (Al-Mudabbir).
Implikasi praktis dari hikmah ke-21 ini bukan berarti meninggalkan ikhtiar lahiriah, melainkan menata ketauhidan batin. Seseorang tetap bekerja dan berinteraksi sosial, tetapi hatinya sepenuhnya bertawakal hanya kepada Allah.
Mengamalkan hikmah ini membawa ketenangan jiwa yang sejati, melahirkan kemerdekaan batin dari penghambaan terhadap duniawi.(*)




