KITAINDONESIASATU.COM – Bagi dunia pesantren di Indonesia, Kitab Al-Hikam bukanlah nama yang asing. Karya monumental dari Syekh Ibnu Atha’illah as-Sakandari, seorang ulama sufi asal Mesir abad ke-13 ini, menjadi salah satu rujukan utama dan kurikulum wajib pada bidang tasawuf di berbagai pondok pesantren tradisional.
Kitab Al-Hikam berisi kumpulan untaian kata bijak dan prosa pendek yang mendalam. Isinya berfokus pada pembersihan hati, penguatan tauhid, serta bagaimana seorang hamba menyikapi pasang surut kehidupan duniawi.
Uniknya, setiap bait dalam kitab ini ditulis dengan gaya bahasa sastra yang indah namun sarat akan makna spiritual dasar manusia.
Para kiai di pesantren kerap menjadikan Al-Hikam sebagai bacaan tingkat lanjut bagi santri senior. Pembelajarannya sering kali diselenggarakan dalam majelis khusus, seperti kajian subuh atau pengajian pasanan saat Ramadan.
Melalui kitab ini, para santri diajarkan untuk tidak mendewakan sebab-akibat duniawi, melainkan selalu bersandar sepenuhnya kepada kehendak Allah SWT.
Di tengah modernisasi, relevansi Al-Hikam justru semakin kuat di Indonesia. Kitab klasik ini dinilai menjadi benteng moral yang efektif bagi generasi muda dalam menjaga kesehatan mental dan spiritual dari arus materialisme yang kian deras.(*)



