KITAINDONESIASATU.COM — Dalam upaya penataan moral dan spiritual masyarakat, ajaran klasik kembali relevan untuk dijadikan pijakan hidup. Salah satunya adalah pesan mendalam dari Syekh Ibn ‘Atha’illah as-Sakandari dalam Hikmah ke-32 Kitab Al-Hikam.
Hikmah tersebut menegaskan bahwa pangkal dari segala kemaksiatan, kelalaian, dan hawa nafsu adalah perasaan puas terhadap diri sendiri (ar-ridha ‘anin-nafs). Sebaliknya, sumber dari segala ketaatan, kesadaran spiritual, dan kebaikan berasal dari ketidakpuasan serta ketidakpercayaan terhadap hawa nafsu diri.
Para ulama menafsirkannya sebagai peringatan keras agar seseorang tidak terjebak dalam sikap jumawa. Ketika seseorang merasa dirinya sudah cukup baik, bernoda sedikit, atau lebih mulia dari orang lain, di situlah pintu kelalaian terbuka lebar.
Rasa puas diri membuat kewaspadaan batin tumpul, hingga dengan mudah terseret dalam kesombongan dan kebiasaan buruk.
Pesan ini menggarisbawahi pentingnya melakukan evaluasi diri (muhasabah) secara konsisten. Mengendalikan ego dan tidak cepat merasa bangga atas capaian pribadi adalah kunci utama untuk menjaga ketaatan serta membentuk integritas moral yang kokoh di tengah kehidupan modern yang penuh godaan.(*)




