KITAINDONESIASATU.COM – Dalam kajian rutin pengajian spiritual, pembahasan hikmah ke-26 Kitab Al-Hikam karya Syekh Ibn ‘Atha’illah as-Sakandari menjadi perenungan mendalam bagi para jemaah. Hikmah ini menekankan bahwa bobot suatu nilai ibadah tidak diukur dari kuantitas fisiknya, melainkan dari kondisi dan kebersihan hati sang pengamal.
Dalam karya monumental tersebut, Syekh Ibn ‘Atha’illah menegaskan: “Tidak dianggap sedikit amal yang lahir dari hati yang zuhud, dan tidak dianggap banyak amal yang lahir dari hati yang serakah.”
Para dai menjelaskan bahwa hati yang zuhud—yakni hati yang terbebas dari keterikatan duniawi, sifat riya, dan haus pujian—mampu membuat amalan sederhana bernilai sangat agung di hadapan Allah SWT.
Sebaliknya, sebanyak apa pun ibadah yang tampak secara lahiriah, nilainya dapat sirna begitu saja jika didasari oleh rasa sombong atau ketamakan dunia.
Melalui intisari hikmah ini, umat diajak untuk senantiasa melakukan evaluasi diri (muhasabah). Fokus utama seorang hamba hendaknya bukan sekadar mengejar kuantitas tumpukan amalan, melainkan menata ketulusan jiwa.
Pada akhirnya, kebersihan hati dan keikhlasan yang tulus itulah yang menjadi penentu utama kualitas serta penerimaan suatu amal kebaikan di sisi Tuhan.(*)




