Dalam studi yang dipublikasikan di Heart, orang yang berjalan dengan kecepatan sedang memiliki risiko 35 persen lebih rendah terkena fibrilasi atrium.
Bahkan, mereka yang rutin jalan cepat memiliki risiko hingga 43 persen lebih rendah. Kondisi ini penting karena fibrilasi atrium dapat meningkatkan risiko stroke dan gagal jantung.
Alasan utama perbedaan ini adalah intensitas aktivitas. Jalan cepat membuat tubuh bekerja lebih aktif sehingga sistem peredaran darah dan jantung menjadi lebih efisien.
Meski begitu, jalan cepat atau lambat tetap harus disesuaikan kondisi tubuh. Bagi sebagian orang usia 50 ke atas, berjalan cepat mungkin tidak selalu nyaman.
Masalah seperti nyeri sendi, kebugaran menurun, atau penyakit kronis membuat jalan lambat menjadi pilihan lebih aman. Dalam kondisi ini, jalan santai tetap memberikan manfaat kesehatan.
Penelitian juga menunjukkan bahwa aktivitas ringan seperti jalan lambat tetap membantu meningkatkan sirkulasi darah. Selain itu, berat badan lebih terkontrol dan tubuh tetap fleksibel.
Para ahli menegaskan bahwa konsistensi jauh lebih penting daripada kecepatan. Jalan kaki setiap hari, meski pelan, tetap lebih baik daripada tidak bergerak sama sekali.
Secara umum, kecepatan jalan dibagi menjadi tiga kategori. Jalan lambat biasanya di bawah 4,8 km/jam, sedang sekitar 4,8–6,4 km/jam, dan cepat di atas 6,4 km/jam.




