Pada kedua metode ini, kadar theobromine yang lebih tinggi dikaitkan dengan kondisi biologis yang lebih baik.
Meski demikian, para peneliti mengingatkan bahwa temuan ini bukan berarti konsumsi cokelat bebas tanpa batas. Kandungan gula, lemak, dan kalori tetap menjadi pertimbangan penting.
Peneliti utama studi, Rami Saad, menekankan bahwa mekanisme pasti bagaimana theobromine bekerja pada tingkat genetik masih perlu dipahami lebih dalam.
Temuan ini membuka peluang riset lanjutan mengenai peran senyawa alami dalam makanan terhadap proses penuaan. Pesan utamanya jelas: pola makan sehari-hari dapat memberi sinyal halus bagi kesehatan jangka panjang, asalkan dikonsumsi secara bijak.***



