Pola ini muncul secara konsisten dalam data yang diteliti.
Penelitian ini memanfaatkan dua basis data besar di Eropa, yakni kelompok kembar Inggris TwinsUK yang melibatkan 509 peserta, serta studi populasi Jerman KORA dengan 1.160 partisipan. Di kedua kelompok, kadar theobromine yang lebih tinggi berkaitan dengan penanda penuaan yang lebih baik.
Profesor Jordana Bell, pakar epigenetika genetik sekaligus penulis utama studi, menyebut temuan ini menarik karena menunjukkan hubungan biologis tanpa harus meningkatkan konsumsi cokelat secara berlebihan.
Peneliti juga membandingkan theobromine dengan senyawa lain yang umum ditemukan dalam kakao dan kopi.
Hasilnya, hanya theobromine yang menunjukkan hubungan konsisten dengan indikator penuaan. Senyawa ini termasuk alkaloid tumbuhan yang dapat memengaruhi aktivitas gen dalam jangka panjang.
Untuk memastikan hasilnya, usia biologis diukur menggunakan dua pendekatan: analisis metilasi DNA dan panjang telomer. Telomer adalah ujung kromosom yang memendek seiring bertambahnya usia dan berhubungan dengan risiko penyakit degeneratif.



