Kemenkes mencatat jumlah kasus malaria nasional sepanjang 2025 mencapai 706.297 kasus atau meningkat sekitar 30 persen dibanding tahun sebelumnya yang berada di angka 543.965 kasus.
Dari jumlah tersebut, sekitar 95 persen kasus berasal dari wilayah Papua yang mencakup enam provinsi.
Pemerintah menilai peningkatan angka kasus itu bukan sepenuhnya menunjukkan kondisi yang memburuk.
Menurut Kemenkes, lonjakan terjadi karena upaya penemuan kasus yang kini dilakukan lebih aktif di lapangan, termasuk melalui penguatan sistem pelaporan digital lewat Sistem Informasi Surveilans Malaria (SISMAL).
“Papua masih menjadi fokus utama eliminasi malaria nasional,” kata Andi.
Ia menyebut keberhasilan Maybrat meraih status bebas malaria menjadi contoh bahwa eliminasi penyakit tersebut tetap memungkinkan dicapai di wilayah Papua.
Untuk menekan kasus di daerah endemis tinggi, pemerintah menerapkan strategi TOKEN atau Temukan, Obati, dan Kendalikan Vektor.
Program itu dilakukan melalui penemuan kasus aktif, pengobatan cepat, hingga pengendalian nyamuk pembawa malaria.

