KITAINDONESIASATU.COM – Kitab suci spiritualitas Islam, Al-Hikam karya Syekh Ibnu Atha’illah as-Syakandari, menyimpan kedalaman makna pada setiap baitnya. Dalam hikmah kedua, ulama asal Mesir ini menggarisbawahi tipisnya batasan antara ambisi pribadi dan kepasrahan kepada ketetapan Tuhan:
“Keinginanmu untuk tajrid (fokus beribadah tanpa memikirkan duniawi) padahal Allah masih menempatkanmu pada maqam asbab (harus bekerja mencari nafkah) adalah bentuk syahwat yang samar. Sebaliknya, keinginanmu untuk masuk ke dalam maqam asbab padahal Allah telah menempatkanmu pada maqam tajrid, merupakan suatu kemunduran dari cita-cita yang luhur.”
Hikmah ini mengajarkan kita untuk peka membaca posisi diri. Manusia sering kali terjebak dalam delusi spiritual; ingin fokus beribadah tanpa bekerja karena malas, atau justru terlalu ambisius mengejar harta hingga melupakan ibadah padahal kebutuhannya sudah tercukupi.
Ibnu Atha’illah mengingatkan bahwa spiritualitas sejati bukanlah pelarian dari realitas.
Kedewasaan seorang hamba diuji dari kemampuannya untuk ikhlas menerima dan menjalankan peran apa pun yang saat ini ditentukan Allah untuknya. Di posisi mana pun kita berada, ketenangan batin hanya akan diraih saat ikhtiar lahiriah selaras dengan ketundukan batiniah kepada-Nya.(*)



