KITAINDONESIASATU.COM — Kajian terhadap kitab sufistik fenomenal Al-Hikam karya Syekh Ibnu ‘Atha’illah as-Sakandari kembali menghadirkan kedalaman makna spiritual.
Pada hikmah ke-14, ulama besar tersebut mengajarkan hakikat alam semesta yang pada dasarnya merupakan kegelapan, sebelum akhirnya disinari oleh cahaya (nur) keagungan Allah SWT.
Syekh Ibn ‘Atha’illah menegaskan bahwa barang siapa yang melihat alam tetapi tidak menyaksikan Allah di dalamnya, di dekatnya, sebelum, atau sesudahnya, maka ia telah kehilangan pancaran cahaya spiritual.
Orang tersebut dianggap terhalang dari ruang kebenaran (ma’rifat) akibat tertutup oleh awan tebal keduniaan yang menutupi mata hatinya.
Hikmah ini menyentuh relevansi kehidupan modern saat ini. Manusia sering kali silau oleh keindahan fisik dan pencapaian materialistis, namun lupa pada Sang Pencipta yang memberikan kehidupan atas segala fenomena tersebut. Keterpesonaan berlebih pada makhluk kerap kali membingkai ketidakpekaan terhadap tanda-tanda kebesaran Tuhan.
Melalui hikmah ini, para penuntut ilmu diajak untuk mentransfonmasi cara pandang. Menjadikan setiap ciptaan di alam semesta bukan sekadar objek visual, melainkan sarana utama untuk semakin mengenal dan mendekatkan diri kepada Sang Mahapencipta.(*)




