KITAINDONESIASATU.COM – Ribuan masyarakat memadati Plaza Balai Kota Bogor untuk menyaksikan Pergelaran Wayang Golek dan Wayang Priangan Dalang Dinasti Sunandar bersama Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Fadli Zon, dan Wali Kota Bogor, Dedie A. Rachim, Jumat 6 November 2026 malam hingga Sabtu 7 November 2026 dini hari.
Pergelaran yang berlangsung hingga pukul 02.10 WIB tersebut digelar untuk memperingati Hari Wayang Nasional yang jatuh setiap 7 November.
Sejumlah pejabat dan tokoh turut hadir dalam kegiatan tersebut, di antaranya Wakil Wali Kota Bogor Jenal Mutaqin, anggota DPD RI dari daerah pemilihan Jawa Barat Alfiansyah Bustami atau Komeng, Adi Bing Slamet, serta jajaran Kementerian Kebudayaan.
Pergelaran Wayang Golek di Bogor Disambut Antusias Masyarakat
Masyarakat tumpah ruah memenuhi kawasan Plaza Balai Kota Bogor untuk menikmati pertunjukan seni tradisional yang diselenggarakan Kementerian Kebudayaan melalui Direktorat Jenderal Perlindungan Kebudayaan dan Tradisi, bekerja sama dengan Pemerintah Kota Bogor.
Sebelum pertunjukan utama dimulai, acara dimeriahkan oleh penampilan sejumlah bintang tamu, yakni Sule, Nunung, dan Kiki Juliar.
Kehadiran para seniman dan tokoh nasional semakin menambah semarak peringatan Hari Wayang Nasional 2026 di Kota Bogor.
Fadli Zon: Wayang Bukan Sekadar Hiburan
Menteri Kebudayaan Fadli Zon mengatakan, pertunjukan wayang tidak hanya menjadi sarana hiburan masyarakat, tetapi juga mengandung banyak makna, nilai moral, serta tuntunan kehidupan.
Ia mengajak masyarakat Kota Bogor, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, dan seluruh Indonesia untuk terus mencintai serta melestarikan wayang sebagai bagian dari kekayaan budaya bangsa.
“Karena pada tanggal ini wayang ditetapkan sebagai Warisan Budaya Dunia oleh UNESCO. Kita berharap masyarakat di Kota Bogor, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, dan di seluruh Indonesia tetap mencintai budaya, termasuk budaya wayang yang merupakan budaya asli Indonesia. Juga tetap menghidupkan pagelaran-pagelaran wayang dengan berbagai macam lakonnya,” ungkap Fadli Zon.
Fadli Zon juga menyampaikan apresiasi terhadap penampilan Dalang Dinasti Sunandar yang berhasil menyuguhkan kombinasi menarik antara wayang golek dan wayang kulit.
Inovasi Pertunjukan Wayang dengan Teks Bahasa Indonesia dan Inggris
Selain mengapresiasi kemampuan dalang, Fadli Zon memberikan pujian terhadap tata pencahayaan atau lighting serta inovasi penyajian pertunjukan.
Salah satu inovasi yang menarik perhatian adalah penggunaan teks berbahasa Indonesia dan Inggris untuk membantu penonton memahami jalan cerita yang dibawakan dalam lakon Karna Tanding.
Menurutnya, inovasi tersebut menjadi langkah positif dalam memperkenalkan seni pertunjukan wayang kepada masyarakat yang lebih luas, termasuk penonton mancanegara.
“Jadi, bagi orang asing pun bisa mengikuti cerita dalam lakon Karna Tanding ini. Ini juga bagian dari inovasi yang ingin kita majukan. Mungkin ke depan akan lebih banyak lagi inovasi-inovasi baru sesuai dengan perkembangan teknologi. Kalau dulu wayang belum ada listrik, pakai blencong (lampu minyak). Kalau sekarang sudah luar biasa,” ujarnya.
Ia berharap perkembangan teknologi dapat semakin memperkaya penyajian pertunjukan wayang tanpa menghilangkan nilai-nilai tradisional yang terkandung di dalamnya.
Dinasti Sunandar dan Ekosistem Wayang Terus Dilestarikan
Dalam kesempatan tersebut, Fadli Zon juga mengapresiasi Ki Dalang Dadan bersama para seniman yang tergabung dalam Dinasti Sunandar.
Dinasti Sunandar merupakan bagian dari keluarga besar pewarisan seni pedalangan yang berkaitan dengan maestro wayang golek Asep Sunandar, Giri Harja 123.
Fadli Zon menilai keberadaan Dinasti Sunandar memiliki peran penting dalam menjaga keberlangsungan seni wayang golek, termasuk keberadaan para perajin yang memproduksi wayang.
Ia mengungkapkan bahwa ekosistem wayang tidak hanya mencakup pertunjukan dan dalang, tetapi juga para perajin yang mempertahankan keterampilan pembuatan wayang golek.
“Sehingga ini tetap menghidupkan budaya wayang di tempat mereka di Bandung. Saya sudah datang ke sana. Bukan hanya wayangnya, bahkan pengrajin-pengrajin pembuat wayang goleknya juga masih hidup. Jadi ekosistem wayang ini kita harapkan menjadi ekosistem yang tetap hidup sebagai warisan budaya, dan bisa diteruskan kepada generasi selanjutnya,” ujarnya.
Pergelaran Wayang Golek dan Wayang Priangan di Plaza Balai Kota Bogor menjadi salah satu upaya memperkuat kecintaan masyarakat terhadap seni tradisional Indonesia.
Melalui kolaborasi pemerintah, seniman, dalang, perajin, dan masyarakat, pelestarian wayang diharapkan terus berkembang serta dapat diwariskan kepada generasi mendatang.






