KITAINDONESIASATU.COM — Kitab Al-Hikam karya Syekh Ibnu Atha’illah as-Sakandari kembali mengingatkan pentingnya mawas diri melalui hikmah ke-44.
Dalam bait ini dipaparkan bahwa pangkal dari segala bentuk maksiat, kelalaian, dan penurutan hawa nafsu bersumber dari rasa puas terhadap kebaikan diri sendiri (ridha ‘an an-nafs).
Sebaliknya, dorongan utama lahirnya ketaatan, kesadaran spiritual, serta kebersihan akhlak berasal dari sikap tidak pernah merasa puas atas amal yang telah dikerjakan.
Seseorang yang merasa dirinya sudah baik cenderung terjebak dalam kesombongan batin dan menganggap enteng dosa. Perasaan cukup ini menutup pintu perbaikan diri karena mengikis rasa butuh kepada rahmat Allah.
Pesan sufistik ini menggarisbawahi bahwa bahaya terbesar seorang hamba bukanlah semata kelemahan fisiknya, melainkan rasa aman yang menipu atas kondisi rohaninya. Ketika rasa penyesalan atas dosa mulai sirna, hati berada dalam ancaman kelumpuhan spiritual.
Oleh karena itu, menjaga sikap rendah hati dan senantiasa mengevaluasi kelemahan diri menjadi fondasi utama untuk meraih ketaatan yang sejati.(*)




