KITAINDONESIASATU.COM – Nilai tukar rupiah dibuka menguat pada perdagangan Jumat pagi, 17 Juli 2026.
Mata uang Garuda terapresiasi sebesar 6 poin atau sekitar 0,03 persen ke level Rp17.980 per dolar Amerika Serikat, dibandingkan posisi penutupan sebelumnya di Rp17.986 per dolar AS.
Penguatan ini terjadi di tengah meredanya tekanan inflasi di Amerika Serikat yang mendorong sentimen positif di pasar keuangan Asia.
Pelemahan inflasi produsen di Amerika menjadi salah satu faktor utama yang mendukung penguatan rupiah. Data terbaru menunjukkan Producer Price Index (PPI) AS mengalami penurunan yang lebih rendah dari perkiraan pasar.
Kondisi tersebut memperkuat keyakinan investor bahwa tekanan inflasi di negara tersebut mulai mereda, sehingga meningkatkan ekspektasi terhadap kebijakan moneter yang lebih longgar.
Sentimen Global Dorong Pergerakan Rupiah
Selain dipengaruhi data inflasi Amerika Serikat, pergerakan rupiah juga didukung oleh menguatnya mayoritas mata uang Asia terhadap dolar AS. Penurunan biaya energi di Amerika turut memberikan dorongan positif terhadap sentimen pasar regional.
Meski demikian, pelaku pasar tetap mencermati meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Konflik yang melibatkan Iran dan Amerika Serikat memicu kekhawatiran terhadap stabilitas kawasan serta potensi gangguan terhadap pasar energi global.

