Salah satu cuitan yang paling viral berbunyi, “Bagaimana orang yang sederhana bisa mendapatkan 58% suara?”, sementara yang lain meledek dengan kata-kata, “Bahkan matematika nenek saya lebih baik.”
Meskipun para hadirin di Kongres Nasional HIPMI terlihat bertepuk tangan dan media arus utama lebih fokus meliput tema ekonomi yang dibawakan, reaksi online justru terpusat pada kesalahan aritmatika dasar tersebut.
Fenomena ini menunjukkan betapa cepatnya warganet menangkap celah dari pidato para tokoh politik di tengah wacana politik Indonesia yang sangat hidup.
Berdasarkan data analisis sentimen media sosial dari Drone Emprit pada kuartal II 2026, blunder atau kesalahan ucapan ringan dari tokoh negara mampu menghasilkan lonjakan engagement hingga 300% dalam waktu kurang dari 24 jam.
Hal ini menjelaskan mengapa meme Prabowo 10+6=17 bisa dengan mudah menggeser substansi pidato ekonomi yang sebenarnya disampaikan pada Kongres Nasional HIPMI.
Pada akhirnya, insiden ini menjadi pengingat bahwa di era digital, setiap kata dan hitungan yang diucapkan oleh Prabowo maupun pejabat publik lainnya akan selalu berada di bawah mikroskop warganet.
Entah disengaja sebagai ice breaking atau murni kelepasan, blunder matematika Prabowo ini telah sukses menghibur jutaan pengguna internet dan menambah warna baru dalam dinamika politik tanah air.***


