KITAINDONESIASATU.COM- Di tengah maraknya informasi kesehatan di internet dan media sosial, baking soda kembali menjadi perbincangan publik. Bahan dapur yang selama ini dikenal sebagai pengembang adonan kue itu ramai diklaim mampu mengatasi asam lambung hingga meningkatkan daya tahan tubuh. Namun, di balik popularitasnya sebagai “obat rumahan”, muncul pertanyaan besar terkait keamanan dan kebenaran klaim tersebut.
Dosen Ilmu Biomedik Farmakologi Fakultas Kedokteran IPB University, dr Widya Khairunnisa, MSc, menjelaskan bahwa baking soda atau soda kue (natrium bikarbonat) memang memiliki peran tertentu dalam dunia medis, namun penggunaannya tidak bisa disamakan dengan konsumsi sehari-hari tanpa aturan.
“Soda kue atau baking soda (natrium bikarbonat) memang dikenal luas sebagai bahan pengembang adonan kue. Dalam dunia medis, natrium bikarbonat juga digunakan sebagai bahan dasar obat antasida yang mampu menetralkan asam sehingga dapat meredakan gejala asam lambung,” jelas dr Widya, dalam keterangan tertulis, Sabtu 24 Januari 2026.
Meski demikian, ia menegaskan bahwa mengonsumsi baking soda secara langsung dalam bentuk bubuk, tanpa takaran yang jelas dan dalam jumlah besar, sebaiknya dihindari. Pasalnya, kandungan natrium yang tinggi dalam baking soda berpotensi menimbulkan dampak serius bagi kesehatan.
“Baking soda mengandung garam yang tinggi, sehingga berpotensi memicu gangguan elektrolit, kenaikan tekanan darah, hingga gangguan jantung jika dikonsumsi secara berlebihan,” urainya.
Selain itu, dr Widya menjelaskan bahwa reaksi baking soda dengan asam lambung dapat menghasilkan gas karbondioksida yang meningkatkan tekanan di dalam lambung. Kondisi tersebut berisiko menimbulkan gangguan pencernaan.
“Baking soda dapat bereaksi dengan asam lambung dan memproduksi gas karbondioksida. Hal tersebut bisa membuat tekanan di lambung meningkat. Konsumsi dalam jumlah besar dapat menyebabkan perut kembung, diare, mual, dan gangguan pencernaan lainnya,” ucapnya.
Ia juga mengingatkan bahwa konsumsi baking soda secara rutin setiap hari dapat memicu respons tubuh yang tidak diinginkan, khususnya terkait keseimbangan pH dan elektrolit.
“Apabila dikonsumsi setiap hari, akan ada beberapa respons yang tidak diinginkan dari tubuh, seperti ketidakseimbangan pH dan elektrolit. Baking soda bersifat basa sehingga jika jumlahnya berlebihan dalam tubuh, keseimbangan asam-basa bisa terganggu,” jelasnya.
Lebih lanjut, dr Widya menyoroti risiko peningkatan tekanan darah akibat kandungan natrium dalam baking soda, terutama bagi masyarakat yang memiliki riwayat hipertensi.
“Jika dikonsumsi setiap hari, natrium dalam darah bisa meningkat, berisiko memperburuk hipertensi,” tambahnya.
Terkait klaim baking soda mampu meningkatkan sistem kekebalan tubuh, dr Widya menegaskan bahwa hingga saat ini belum terdapat bukti ilmiah yang kuat untuk mendukung anggapan tersebut.
“Belum ada bukti ilmiah kuat bahwa baking soda dapat meningkatkan sistem kekebalan tubuh atau membuat tubuh lebih sehat. Klaim seperti ini lebih bersifat populer di internet, tetapi tidak didukung penelitian yang kuat,” terangnya.
Ia pun mengingatkan bahwa konsumsi baking soda secara rutin justru berpotensi meningkatkan risiko gangguan kesehatan. Oleh karena itu, penggunaannya tidak disarankan tanpa pengawasan medis.
Jika diperlukan untuk mengatasi masalah seperti asam lambung, masyarakat diminta untuk berkonsultasi terlebih dahulu dengan tenaga kesehatan.
“Selain itu, konsumsi baking soda setiap hari justru meningkatkan risiko kesehatan, sehingga sebaiknya dihindari. Kalaupun diperlukan untuk mengatasi masalah seperti asam lambung, sebaiknya tetap berkonsultasi dengan dokter untuk mencegah efek samping yang tidak diinginkan,” ujarnya.
Sebagai penutup, dr Widya mengajak masyarakat untuk tidak mudah percaya pada tren kesehatan yang beredar di internet dan lebih mengutamakan pola hidup sehat yang telah terbukti secara ilmiah.
“Sebaiknya masyarakat memprioritaskan pola hidup sehat sebagai cara meningkatkan daya tahan tubuh dengan cara yang sudah terbukti dan aman, seperti pola makan seimbang, cukup tidur, olahraga teratur, menghindari stres berlebih, dan hidrasi yang cukup. Jika memerlukan pengobatan untuk asam lambung, dapat dikonsultasikan dengan dokter,” pesan dr Widya. (Nicko)

