KITAINDONESIASATU.COM – Presiden AS Donald Trump membuat gebrakan mengejutkan. Lewat perintah eksekutif yang diteken pada Senin, 30 Juni 2025, Trump resmi mencabut sebagian besar sanksi ekonomi terhadap Suriah, membuka babak baru bagi negara yang telah lama terisolasi dari dunia internasional.
Pemerintah Suriah menyambut langkah tersebut sebagai perubahan besar yang bersejarah, yang dinilai membuka jalan bagi rekonstruksi nasional, stabilitas, dan integrasi kembali ke komunitas global.
“Kami menyambut baik keputusan berani Presiden Trump ini. Ini menjadi titik balik penting bagi masa depan Suriah,” ujar Menteri Luar Negeri Suriah, Asaad al-Shaibani, lewat unggahannya di platform X, Selasa, 1 Juli 2025.
Shaibani menyebut pencabutan sanksi sebagai awal dari fase baru kemakmuran dan keterbukaan, serta momentum strategis untuk membangun kembali infrastruktur vital, memulangkan pengungsi, dan memulihkan perekonomian.
Gedung Putih juga menegaskan bahwa keputusan ini sejalan dengan komitmen AS untuk mendukung Suriah yang damai, bersatu, dan stabil, baik di dalam negeri maupun dalam relasinya dengan negara-negara tetangga.
Langkah ini sebelumnya telah diumumkan Trump saat berpidato dalam forum investasi di Riyadh, Arab Saudi, pada 13 Mei lalu. Tak lama kemudian, Trump menggelar pertemuan bersejarah dengan Presiden Suriah Ahmed al-Sharaa, menandai pertama kalinya dalam 25 tahun pemimpin kedua negara duduk bersama.
Pertemuan ini terjadi di tengah perubahan dramatis politik Suriah, setelah jatuhnya rezim Bashar al-Assad, yang telah berkuasa hampir 25 tahun sebelum melarikan diri ke Rusia pada 8 Desember 2024. Kejatuhan Assad juga mengakhiri kekuasaan panjang Partai Baath sejak 1963. (*)




