Kritik Keras: Absennya Mitigasi Bencana di Tingkat Tapak
Direktur Sekolah Sungai Cimanuk, Mulyono Khaddafi, memberikan kritik tajam terhadap lambatnya respons mitigasi bencana di wilayah ini. Ia mengkategorikan peristiwa ini sebagai bencana kekeringan ekstrem yang seharusnya bisa diprediksi dan dimitigasi jauh-jauh hari.
“Kerugiannya sangat besar bagi masyarakat dan berdampak langsung pada merosotnya ketahanan pangan lokal. Yang sangat disayangkan, tidak pernah ada mitigasi bencana kekeringan sama sekali di wilayah ini, selain inisiatif mandiri yang selama ini dilakukan oleh teman-teman Sekolah Sungai Cimanuk,” ungkap Mulyono.
Ia mendesak agar pemerintah daerah dan BBWS tidak hanya bertindak reaktif saat bencana terjadi, melainkan mulai membangun sistem peringatan dini (early warning system) dan infrastruktur panen air (rainwater harvesting) di level desa.
Urgensi Perlindungan Lahan dan Adaptasi Iklim
Kasus puso di Garut ini menjadi alarm keras bagi kebijakan ketahanan pangan nasional. Berdasarkan amanat Undang-Undang Nomor 41 Tahun 2009 tentang Perlindungan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (LP2B), negara wajib menjamin ketersediaan air dan infrastruktur irigasi untuk lahan pertanian yang telah ditetapkan.






