Menanggapi serangan tersebut, Kementerian Pertahanan Kuwait mengonfirmasi bahwa pasukan pertahanan udara mereka telah mengaktifkan sistem pertahanan untuk merespons rudal dan drone. Warga diminta mengikuti pedoman keselamatan dari otoritas setempat.
Di Bahrain, sirene serangan udara berbunyi di sekitar markas Armada Kelima AS, dan Kementerian Dalam Negeri Bahrain mengimbau warga untuk tetap tenang dan segera menuju tempat perlindungan terdekat.
Hingga saat ini, besaran kerusakan akibat serangan Iran masih belum jelas.
Konflik ini dipicu oleh serangan AS sebelumnya terhadap infrastruktur militer Iran, termasuk sistem pengawasan, komunikasi, pertahanan udara, fasilitas penyimpanan drone, dan kemampuan pemasangan ranjau. CENTCOM menyatakan bahwa serangan AS tersebut merupakan respons atas serangan Iran terhadap kapal tanker minyak berbendera Panama.
Kantor berita Iran, Tasnim, melaporkan beberapa ledakan di desa Tahrui, Sirik, di dekat pesisir Hormuz. Sementara itu, IRIB melaporkan bahwa rudal menghantam sebuah desa di Pulau Qeshm, yang terletak di Selat Hormuz.
Kedua lokasi tersebut diketahui menampung fasilitas militer Iran, menara komunikasi, dan pusat pemantauan.
Konflik ini menyoroti perselisihan yang berkepanjangan di Selat Hormuz, jalur vital yang dilalui sekitar 20% minyak mentah dan gas alam cair dunia.
