Menurut Filep, Pansus tidak datang ke Papua untuk menentukan pihak yang benar atau salah. Fokus utama kunjungan adalah mengidentifikasi persoalan secara objektif sekaligus mendengar pengalaman masyarakat yang terdampak.
“Kami datang bukan untuk mencari siapa yang salah dan siapa yang benar. Kami ingin melihat langsung persoalan di lapangan, mendengar masyarakat, dan menginventarisasi masalah secara objektif agar rekomendasi Pansus benar-benar menjawab kebutuhan masyarakat Papua,” kata Filep dalam kunjungan kerja di Sorong, Senin (14/9/2026).
Pengungsian Jadi Perhatian Pansus
Salah satu persoalan yang menjadi perhatian DPD RI adalah kondisi masyarakat yang masih terdampak pengungsian akibat konflik. Situasi tersebut dinilai tidak hanya berkaitan dengan tempat tinggal, tetapi juga memengaruhi berbagai aspek kehidupan warga.
Filep menyebut konflik dapat mengganggu akses masyarakat terhadap pendidikan, layanan kesehatan, mata pencaharian, hingga kehidupan sosial. Karena itu, perlindungan terhadap masyarakat terdampak menjadi bagian penting dalam upaya penyelesaian persoalan kemanusiaan.
“Negara perlu memastikan masyarakat yang terdampak konflik memperoleh perlindungan dan kepastian masa depan. Kita tidak boleh membiarkan masyarakat hidup terlalu lama dalam ketidakpastian,” ujarnya.
Pengungsi Soroti Kondisi Perempuan
Dalam pertemuan tersebut, salah seorang pengungsi bernama Mery turut menyampaikan pengalaman dan pandangannya mengenai situasi yang dihadapi masyarakat. Ia menggambarkan kondisi yang menurutnya masih terasa mencekam dan intimidatif.





