Mercusuar ini dinamai dari tokoh bersejarah Raja Willem Alexander Paul Frederik Lodewijk, penguasa Luksemburg antara tahun 1817–1890.
Dibangun sejak 1875 oleh pemerintah kolonial Belanda, menara ini memiliki tinggi sekitar 85 meter dan dinding setebal 1 meter dengan gaya arsitektur silindris khas Eropa. Untuk mencapai puncaknya, pengunjung harus menaiki 168 anak tangga.
Langka di Dunia, Masih Aktif Hingga Kini
Menariknya, menara mercusuar serupa hanya ada tiga di dunia—di Aceh, Belanda, dan Karibia. Hingga hari ini, Willem Toren III masih menjalankan fungsinya sebagai pemandu navigasi kapal di perairan Samudra Hindia. Pengelolaannya kini dipegang oleh Kementerian Perhubungan RI melalui Distrik Navigasi Kelas II Sabang.
Lebih dari sekadar bangunan tua, menara ini kini menjadi destinasi wisata sejarah dan alam yang menyatu dalam keindahan Pulau Aceh. Dari atas puncaknya, Anda tak hanya menyaksikan keindahan bentang laut, tetapi juga bisa merasakan jejak waktu—bahwa tempat ini pernah menjadi titik penting dalam percaturan dagang global.
Menjaga Arah dari Masa ke Masa
Mercusuar Willem Toren III bukan sekadar bangunan tinggi yang menyala di malam hari. Ia adalah penanda zaman, penjaga batas samudra, dan simbol kejayaan serta peringatan akan masa kolonialisme.
Dari pelayaran rempah-rempah dahulu, hingga kapal modern kini, menara ini terus setia menunjukkan arah—baik bagi kapal yang melintas, maupun bagi sejarah bangsa yang ingin dikenang.***

