Walhasil, Selacau tidak menjadi bahwahan Sukapura. Selacau pada waktu itu memberlakukan bebas pajak pada masyarakat.
Setelah Mataram di masa Sultan Agung Hanyakrokusumoh (1614M) masuk ke Parahyangan situasi semakin runyem pasalnya Matar mewajibkan pajak dalam bentuk bagi hasil atas kelola wilayah Selacau. Dari sinilah, titik akhir pemerintahan Selacau.

Berangkat dari sejarah bahwa kesultnanan Selacau sebagai wilayah keagamaan, akhirnya Rohidin sebagai pewaris cagar budaya kini tengah bekerja ekstra kersa untuk mewujudkan Selacau sebagai destinasi wisata religi mandiri.
“Sekalipun tidak ada bantuan dari pemerintah, kami tetap menjalin koordinasi dengan pemerintah dalam mengembangkan kesultananan sebagai destinasi wisata religi mandiri,”.
Keunikan Selacau
Sebagai destinasi wisata religi mandiri, Kesultananan Selacau sudah siap untuk memanjakan para pengunjungnya.
Di tempat wisata ini pengunjung selain bisa menikmati keindahan bangunan kesultananan di tengah hutan, dinginnya tiupan angin pegunungan, juga dimanjakan oleh bangunan kesultnanan mulai pintu gerbang utama, hingga ke pernik-pernik artefak yang hingga kini masih terjaga kealiannya.
Di dalam dan belakang istana kesultananan terdapat situs berupa makam para pejabat kesultnan seperti makam KGP Surawisesa Parungponteng, Raja Komala Selaco Parungponteng, makam Sultan Agung Patrakusumah Sodong hilir, makam Eyang Raksaniti Parungponteng, makam R.Suryadiningrat Parungponteng, makam Dipasajaya Parungponteng, makam Kiayi Wastapajaya Parungponteng, situs makam Rd Mahmudsyah Sacataruna Sodong hilir, makam Kgp SusukTunggal Parungponteng, dan makam Syeh Syaripudin Parungponteng.
Kesultananan Selacau berbeda dengan kesultnanan lainnya yang ada di Jawa Barat dan Banten.
Kesultanan ini tidak berada di tengah kota, melainkan berdiri tegak di tengah hutan seluas 30 hektar. Kondis hutan yang masih perawan salah satu daya tarik pengunjung. Tiupan angin, sura burung, dan naik turunnya jalan yang melilit hutan kesultanan merupakan perhiasan kesultnanan yang membuat para pengunjung betah di tempat itu.
