Berita Utama

Kolang-Kaling Desa Tirawan, Camilan Kenyal Jadi Primadona Ramadan

×

Kolang-Kaling Desa Tirawan, Camilan Kenyal Jadi Primadona Ramadan

Sebarkan artikel ini
Warga Desa Tirawan proses membuat kolang-kaling. (ist)
Warga Desa Tirawan proses membuat kolang-kaling. (ist)

KITAINDONESIASATU.COM – Ramadan kali ini membawa berkah yang luar biasa bagi warga Desa Tirawan, Kecamatan Pulau Laut Sigam, Kabupaten Kotabaru. Tak hanya sekadar bulan penuh berkah untuk beribadah, bulan suci ini juga menjadi momen panen rezeki bagi produsen kolang-kaling di kampung ini, dengan lonjakan permintaan hingga 100%!

Kolang-kaling, topping takjil yang kerap menyegarkan es buah atau kolak, kini menjadi primadona di bulan Ramadan. Setiap harinya, dapur-dapur sederhana di Desa Tirawan memproduksi ratusan kilogram kolang-kaling untuk memenuhi permintaan yang datang dari berbagai daerah.

Namun, di balik kenikmatan kolang-kaling yang sering dijajakan di pinggir jalan, ada proses panjang yang memerlukan ketelatenan dan kesabaran tinggi. Pada Selasa (4/3/2025), tim media ini berkesempatan mengunjungi langsung sentra produksi kolang-kaling di Desa Tirawan dan menyaksikan proses pembuatan camilan kenyal ini dari awal hingga siap dipasarkan.

Semua dimulai dengan pemisahan buah aren dari tangkainya. Proses ini tidak boleh sembarangan, karena getah dari buah aren dapat menyebabkan gatal-gatal jika terkena kulit. Para pekerja perempuan lanjut usia di kampung ini pun bekerja cekatan, memisahkan buah satu per satu dengan hati-hati.

Selanjutnya, buah aren direbus dalam drum besar selama satu jam untuk menghilangkan getahnya, kemudian direbus kembali untuk melunakkan kulit buah yang keras. Setelah itu, proses perendaman selama dua hari dua malam dilakukan sebelum buah dibelah dan bijinya diambil.

Pengambilan biji aren dilakukan secara tradisional dengan menggunakan gagang pisau atau golok, dengan teknik mencungkil yang sudah diwariskan turun-temurun. Setelah biji berhasil dikeluarkan, biji tersebut dipipihkan hingga mendapatkan tekstur kenyal yang menjadi ciri khas kolang-kaling. Sebelum siap dijual ke pengepul, kolang-kaling harus direndam lagi selama dua hari agar benar-benar bersih dan siap konsumsi.

“Proses dari buah hingga jadi kolang-kaling memakan waktu sekitar sepekan,” kata Ijah, 40, seorang pekerja yang sibuk mengupas biji aren.

Keberhasilan produksi kolang-kaling ini tak lepas dari peningkatan permintaan yang signifikan selama Ramadan. Iril, 50, pemilik usaha kolang-kaling di Desa Tirawan, mengungkapkan bahwa harga kolang-kaling yang biasanya Rp 200 per takar, kini bisa dijual seharga Rp 2.500 hingga Rp 3.000 per takar. Tak hanya harga yang melonjak, permintaan pun meningkat tajam.

“Di sini, pembeli bisa membeli antara 200 hingga 400 takar. Kalau sedang ramai, bisa sampai 300 kilogram terjual dalam sehari,” ujar Iril, yang mengaku omzet penjualannya melesat selama bulan Ramadan.

Kondisi serupa dialami Mirna, 31, pemilik usaha kolang-kaling lainnya. Meski hanya beroperasi saat Ramadan, lonjakan permintaan tetap mengagumkan.

“Meningkat sampai 100%, karena saya hanya produksi saat Ramadan. Kolang-kaling saya laris manis!” ungkap Mirna yang mengaku bisa menjual hingga 1 ton kolang-kaling dalam waktu tiga hari.

Kolang-kaling memang memiliki tekstur kenyal yang khas dan dikenal sebagai camilan menyegarkan. Biasanya disajikan dalam es buah atau kolak, menjadikannya salah satu menu takjil favorit saat berbuka puasa. Tidak heran, jika permintaan melonjak tajam selama bulan Ramadan.

Bagi warga Desa Tirawan, Ramadan bukan sekadar waktu untuk beribadah, tetapi juga momen untuk meraih rezeki. Dengan meningkatnya produksi dan permintaan, keberkahan Ramadan benar-benar terasa di sentra kolang-kaling ini, menjadikan bulan suci ini semakin penuh dengan harapan dan berkah. (Anang Fadhilah/Yo)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *