KITAINDONESIASATU.COM – Hong Kong dilanda salah satu tragedi paling mengerikan dalam 17 tahun terakhir. Kebakaran besar yang melumat delapan bangunan di distrik Tai Po pada Rabu (26/11) siang berubah menjadi mimpi buruk massal. Data terbaru South China Morning Post (SCMP) mengungkapkan 44 korban tewas dan 279 orang belum ditemukan, angka yang terus melonjak setiap jam.
Api yang bermula di kompleks berisi lebih dari 1.900 unit apartemen itu menjalar ganas akibat perancah bambu dan material plastik busa yang dipasang untuk renovasi, kombinasi mematikan yang membuat si jago merah merebut ribuan nyawa nyaris tanpa perlawanan.
Menurut Departemen Pemadam Kebakaran, seorang petugas pemadam ikut gugur, sementara 45 korban luka kritis masih berjuang di rumah sakit. Hingga kini, 26 tim pemadam terus bertarung melawan api yang masih berkobar di empat dari tujuh bangunan yang terdampak, meski tiga di antaranya sudah berhasil dikendalikan.
Tak hanya itu, tiga orang telah ditangkap, termasuk dua manajer dan seorang insinyur konsultan perusahaan konstruksi yang mengerjakan renovasi. Mereka dituduh melakukan pembunuhan karena kelalaian, setelah penyelidikan awal menemukan material tidak aman yang mempercepat penyebaran api secara abnormal.
Perwira Senior Kepolisian Eileen Chung Lai-yee mengatakan, “Ada kelalaian berat yang membuat api menyebar cepat dan menewaskan banyak orang.”
Security Secretary Hong Kong, Chris Tang, menambahkan bahwa material isolasi busa, jaring perancah, dan terpal anti-air menjadi penyebab utama ledakan api yang tak terkendali.
Situasi semakin mencekam ketika pemerintah Hong Kong mengeluarkan alarm kebakaran level-5, level tertinggi dalam sistem peringatan kota. Dua kompleks hunian terdekat ikut dievakuasi, memaksa 900 warga mengungsi ke delapan fasilitas darurat. (*)


