KITAINDONESIASATU.COM – Istilah Londo Ireng atau Belanda Hitam merupakan bagian dari sejarah kolonial Indonesia yang masih menyisakan jejak hingga saat ini.
Sebutan tersebut merujuk pada tentara bayaran asal Afrika Barat yang direkrut pemerintah Hindia Belanda setelah berakhirnya Perang Diponegoro pada awal abad ke-19.
Kehadiran mereka menjadi strategi Belanda untuk memperkuat kekuatan militer setelah mengalami kerugian besar selama perang.
Para serdadu ini berasal dari sejumlah wilayah di Afrika Barat, seperti Ghana, Burkina Faso, dan Pantai Gading, kemudian ditempatkan di berbagai daerah di Pulau Jawa.
Salah satu kawasan yang menjadi pusat keberadaan mereka adalah Purworejo, Jawa Tengah, yang hingga kini masih menyimpan berbagai peninggalan sejarah terkait komunitas Londo Ireng.
Kampung Afrikan Menjadi Bukti Jejak Sejarah Londo Ireng
Setelah Perang Diponegoro berakhir, pemerintah kolonial Belanda mengalami kekurangan personel militer akibat banyaknya korban jiwa.
Karena sulit merekrut tentara dari Eropa, Belanda kemudian mencari pasukan dari Afrika Barat yang dinilai lebih mampu beradaptasi dengan iklim tropis dan memiliki kemampuan tempur yang baik.
Para tentara tersebut dikontrak untuk bertugas di sejumlah tangsi militer Hindia Belanda, terutama di wilayah Purworejo yang saat itu dianggap sebagai daerah strategis untuk mengawasi sisa-sisa perlawanan pasukan Diponegoro di kawasan Bagelen.
Seiring berjalannya waktu, sebagian serdadu Afrika menetap di Purworejo. Mereka diberi lahan untuk membangun rumah dan bercocok tanam serta diizinkan menikah dengan penduduk setempat.
Dari proses tersebut lahirlah sebuah kawasan yang kini dikenal sebagai Kampung Afrikan di Kelurahan Pangen Jurutengah.
Hingga sekarang, kawasan tersebut masih menyimpan sejumlah bangunan bergaya kolonial, pagar beton tua, serta peninggalan lain yang menjadi saksi keberadaan komunitas Londo Ireng di masa lampau.





