KITAINDONESIASATU.COM – Gunung Raung merupakan gunung berapi aktif dengan ketinggian 3.344 Mdpl berada di antara tiga wilayah Banyuwangi, Bondowoso dan Jember, Jawa Timur.
Jangan sepelekan gunung raung, merupakan jalur pendakian gunung paling ekstrem di Puala Jawa Argopuro yang berada di dekat Raung dengan ketinggian 3.088 Mdpl kawasan Probolinggo, Lumajang, Jember dan Bondowoso.
Menurut catatan para pendaki beberapa gunung di Pulau Jawa yang memiliki pendakian ektrem antara lain, Raung, Argopuro, Ciremai, Arjuno, Lawu, Slamet, Sumbing, Sindoro, Merbabu dan Ranu Kumbolo, kaki Gunung Semeru.
Kembali ke Gunung Raung, banyak pendaki datang ke Gunung Raung karena penasaran dengan jalurnya yang terkenal ekstrem dan pemandangannya yang luar biasa.
Oleh karena itu jika Anda hendak mendaki gunung Raung harus benar-benar mempersiapkan fisik, kemampuan teknis dasar dan teknis rappeling atau turun menggunakan tali, ini kemampuan mendasar jika Anda naik turun puncak Raung Sejati.
Diungkapkan para pendaki saat Anda turun dari puncak menuju area campsite, antrean panjang hampir selalu terjadi, banyak pendaki terlihat ragu, panik, bahkan baru pertama kali mencoba turun menggunakan tali langsung di medan sebenarnya.
Padahal di jalur seperti Raung, kesalahan kecil saja bisa berbahaya, bukan cuma untuk diri sendiri tapi juga untuk pendaki lain yang sedang menunggu giliran naik atau turun.
Kadang yang membuat perjalanan jadi lama bukan jalurnya, melainkan kurangnya persiapan sebelum mendaki.
Raung bukan sekadar gunung untuk mencari foto keren atau mengejar konten, gunung ini butuh mental, fisik, dan kemampuan teknis yang benar-benar matang dan mumpuni.
Belajar teknik dasar seperti penggunaan harness, cara mengendalikan tali, hingga menjaga ketenangan saat rappelling seharusnya menjadi bagian penting sebelum memutuskan mendaki Gunung Raung.
Karena semakin siap seorang pendaki, semakin aman juga perjalanan untuk semua orang di jalur, sebaiknya sebelum naik Raung wajib didampingi latihan dasar terlebih dahulu.
“Gunung Raung bukan sekadar tentang mencapai puncak. Ia adalah pelajaran tentang bagaimana hidup meminta keberanian dalam setiap langkah,” tulis seorang pendaki di sosial media.
Jalurnya curam, dipenuhi batu-batuan raksasa yang menuntut keseimbangan, di beberapa titik, tubuh harus mempercayakan diri pada tali yang membentang di tebing.
Tikungan-tikungan sempit berdampingan dengan jurang yang menganga, di sana, satu langkah yang gegabah bisa berakhir dengan konsekuensi yang tak dapat diulang.
“Kalimat salah langkah, beda alam bukan lagi sekadar ungkapan, melainkan pengingat bahwa alam selalu layak dihormati,” ucapnya.
Di hadapan kaldera Raung yang masih aktif, manusia terasa begitu kecil, asap yang sesekali mengepul menjadi pengingat bahwa bumi ini hidup, memiliki kekuatan yang jauh melampaui kesombongan manusia.
Gunung Raung adalah gunung berapi aktif dengan tipe stratovolcano yang terletak di ujung timur Pulau Jawa, melintasi wilayah Kabupaten Banyuwangi, Bondowoso, dan Jember di Jawa Timur.
Gunung ini memiliki ketinggian sekitar 3.344 mdpl dan terkenal memiliki kaldera kering terbesar kedua di Indonesia atau terbesar di Pulau Jawa.
Puncak tertinggi Gunung Raung mencapai sekitar 3.344 Mdpl dengan kaldera raksasa dengan diameter sekitar 2,2 km dan kedalaman mencapai 500 meter di bawah Puncak Sejati.
Status gunung ini aktivitas, berada di tingkat Waspada level II dengan aktivitas vulkanik yang fluktuatif, untuk mencapai puncak Gunung Raung ada beberapa rute pendakian yakni :
- Jalur Kalibaru
Berada Dusun Wonorejo, Desa Kalibaru Wetan, Kecamatan Kalibaru, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur merupakan salah satu jalur utama untuk mendaki Gunung Raung.
Jalur ini dikenal sebagai jalur pendakian terekstrem di Pulau Jawa yang menuntut keahlian tali-temali dan rappelling.
- Jalur Sumberwringin
Merupakan jalur pendakian klasik serta tertua menuju Gunung Raung berada di Desa Sumberwringin, Kecamatan Sumberwringin, Kabupaten Bondowoso.
Rute pendakian jalur ini menjadi satu-satunya jalur pendakian Gunung Raung dari sisi Bondowoso yang dibuka sejak zaman kolonial Belanda.
Pendakian jalur klasik ini melewati berbagai pos peristirahatan di tengah hutan tropis, medan ekstrem, jalur menuju puncak sering dinamakan “Jembatan Siratul Mustaqim” karena berupa jalur sempit bertepi jurang yang memerlukan nyali dan persiapan matang.
- Jalur Glenmore
Rute pendakian yang relatif baru dibuka oleh Mapala UI pada tahun 2003 sering disebut sebagai jalur neraka Gunung Raung melalui Glanmore, Kabupaten Banyuwangi.
Pendakian Gunung Raung ini dilakukan dari sisi selatan Gunung Raung wilayah Kecamatan Glanmore, Kabupaten Banyuwangi yang bukan merupakan jalur pendakian resmi, komersial atau umum.
Jalur ini sangat jarang digunakan karena medannya yang ekstrem, biasa dilakukan untuk keperluan ekspedisi khusus atau latihan
- Jalur Jambewangi
Merupakan jalur terbaru menuju puncak Gunung Raung pertama kali dipetakan pada tahun 2004 setelah dilakukan sebanyak 15 kali uji coba.
Jalur pendakian ke Gunung Raung ini terletak di Desa Jambewangi, Kecamatan Sempu, Kabupaten Banyuwangi merupakan salah satu jalur ektrem dengan kondisi alam yang masih asli.
Jalur ini juga bukan jalur utama, komersial maupun jalur umum trek jalur ini didominasi hutan belantara yang masih alami dan masih jarang dijamah para pendaki sehingga kurang popular.
Gerbang di kawasan ini terdapat wisata alam yang dikenal dengan sebutan Gerbang Raung Agro Forestry di bawah naungan Perhutani dengan karakteristik jalur altenatif jalur ekplorasi di lereng Gunung Raung.
Jalur Jambewangi memiliki panorama Banyuwangi sampai Selat Bali di atas puncak, terdiri dari 10 pos dan memputuhkan perjalanan waktu yang cukup lama sekitar 4 hari.
Disarankan para pendak berpengalaman atau tim ekspedisi khusus yang menggunakan rute ini, karena memang bukan jalur komersial, umum yang mudah dilalui. **






