KITAINDONESIASATU.COM – Kebakaran hutan terus terjadi dan kian meluas di wilayah Jawa Timur menyusul datangnya musim kemarau ekstrem yang terjadi, hingga terpantau mencapai 220 titik panas hingga Kamis, 24 September 2026.
Menurut data dari Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Juanda diprakirakan kondisi dengan tingkat kewaspadaan tinggi hari ini terutama di wilayah Kabupaten Jember dan Kabupaten Situbondo.
“Mari lebih bertanggungjawab lagi untuk tidak melakukan aktivitas yang dapat memantik terjadinya kebakaran hutan dan lahan. Kepedulian bersama terhadap lingkungan adalah kunci penting dalam penghentian api kebakaran,” tulis akun resmi BMKG Juanda @infobmkgjuanda.
Dari analisa data FFMC (Fine Fuel Moisture Code), indeks cuaca kebakaran untuk mengukur tingkat kekeringan bahan ringan di permukaan tanah menyebutkan terdapat 220 hotsport pada 24 September 2025 didominasi kepercayaan sedang dengan jumlah 167 titik panas.
Dari jumlah itu terjadi di wilayah Banyuwangi 42 titik panas dan Situbondo 31 titik panas, pada 26 September 2026 FFMC sangat tinggi dampak meluas di sebagian selatan dan timur, dan kategori rendah masih terlihat di sebagian Lumajang, sementara kantong lain menyempit hotspot ini perlu verifikasi ulang di lapangan.
Sementara daerah lain juga terjadi di Jember 24 titik panas, Probolinggo 15 titik panas dan Malang mencapai 14 titik panas dengan tingkat kepercayaan tingi dengan skor 9-10 mencapai 18 kemudian sedang dengan skor 8 mencapai 167 dan tingkat kepercayaan rendah 0-7 mencapai 35.
FFMC sendiri adalah indek kemudahan bahan bakar halus di lapisan atas permukaan tanah untuk terbakar, semakin tinggi kategorinya maka akan semakin mudah api menyala dan menyebar.
Oleh karena itu dengan adanya peringatan seperti ini direkomendasikan agar masyarakat waspada atas situasi ini dengan menghindari pembakaran lahan, sampah dan aktivitas pemicu api terbuka.
Meningkatkan patroli dan pemantauan pada wilayah rawan, segera laporkan asap atau titik api kepada pihak terkait kemudian patau informasi cuaca dan peringatan dini resmi BMKG.
Peringatan di atas tentu saja tidak lepas dari adanya puncak adanya puncak kemarau panjang yang berlangsung bulan Juli hingga September 2026 dengan prosentasi tertinggi mencapai 25,41 persen terjadi pada September 2026.
Puncak kemaru terluas diperkirakan terjadi pada Agustus yang mencakup 48,84 persen luas daratan Indonesia sedang bulan Setember mencapai 25,41 persen.
Cuaca kemarau panjang dan cuaca kering diperngaruhi El Nino dan tingginya jumlah titik panas menjadi perhatian dan menjadi prioritas kewaspadaan terjadinya kebkaran hutan dan lahan (karhutla).
Sejumlah wilayah kini menjadi prioritas kewaspadaan dalam prioritas dan perhatian secara khusus seperti berikut ini:
Wilayah yang menjadi prioritas utama adalah, wilayah Ngawi, Lumajang, dan Malang, kemudian wilayah perlu diwaspadai wilayah Kabupaten Jember, Jombang, dan wilayah lain dengan titik panas tinggi FFMC tetap menjadi kewaspadaan bersama. **




