Berita UtamaHukum

Hati-Hati! Modus “Call Hening” Bisa Sedot Data dan Uang Tanpa Disadari

×

Hati-Hati! Modus “Call Hening” Bisa Sedot Data dan Uang Tanpa Disadari

Sebarkan artikel ini
IMG 20260418 134752
Dosen IPB University, Dr Heru Sukoco, menekankan pentingnya kewaspadaan terhadap panggilan misterius yang marak terjadi. (Kis/ist)

KITAINDONESIASATU.COM- “Call hening” kini menjadi ancaman baru yang mengintai pengguna ponsel dan berpotensi menyeret korban ke penipuan digital. Modus panggilan misterius tanpa suara yang tiba-tiba terputus ini disebut sebagai tahap awal kejahatan siber, bahkan bisa berujung pada pencurian data hingga kerugian finansial jika tidak diwaspadai.

Dosen Program Studi Ilmu Komputer IPB University, Dr Heru Sukoco, mengingatkan masyarakat untuk tidak merespons panggilan semacam ini. Ia menegaskan prinsip utama yang harus dipegang adalah abaikan dan jangan telpon balik.

“Jangan angkat, jangan telepon balik, blokir dan abaikan karena panggilan tersebut merupakan tahapan awal dari penipuan berbasis telepon,” ujarnya, saat di kutip dalam keterangan tertulis, Sabtu 18 April 2026.

Fenomena call hening sendiri diidentifikasi sebagai bagian dari social engineering atau scam yang tengah meningkat. Panggilan ini biasanya tidak bersuara atau terputus setelah beberapa detik. Tujuannya beragam, mulai dari mengecek apakah nomor aktif, memancing korban untuk melakukan call back, hingga mengumpulkan data untuk serangan lanjutan.

Menurutnya, risiko dari panggilan ini tidak bisa dianggap sepele. Nomor korban berpotensi masuk dalam daftar target penipuan, diarahkan ke skema lanjutan seperti one time password (OTP) dan phishing, hingga terhubung ke nomor premium berbiaya tinggi jika melakukan panggilan balik.

Untuk menghindari hal tersebut, ia menyarankan masyarakat agar tidak mengangkat telepon dari nomor tidak dikenal, terutama nomor luar negeri yang mencurigakan. Jika memang penting, biasanya penelepon akan menghubungi kembali atau mengirim pesan singkat.

Ia juga menekankan agar tidak pernah melakukan call back. “Tindakan ini adalah yang paling sering menjebak, karena banyak scam menggunakan teknik ‘missed call bait’,” ujarnya.

Selain itu, masyarakat dapat memanfaatkan teknologi untuk perlindungan tambahan. Misalnya menggunakan aplikasi pihak ketiga yang dapat membantu mengidentifikasi nomor spam, memblokir otomatis, serta memberi label panggilan mencurigakan. Ia juga menyarankan untuk mengaktifkan fitur bawaan ponsel seperti silence unknown callers atau block unknown numbers.

“Apabila panggilan terlanjur terangkat, hindari menjawab ‘ya’ karena suara tersebut dapat direkam dan disalahgunakan untuk manipulasi data pribadi seperti OTP, NIK, atau informasi perbankan,” sarannya.

Lebih jauh, menurutnya edukasi keluarga menjadi langkah penting, terutama bagi orang tua dan anak-anak yang rentan menjadi target penipuan. Mereka diimbau untuk tidak panik dan tidak mudah percaya terhadap ancaman melalui telepon.

Di tingkat yang lebih luas, ia menekankan pentingnya peningkatan literasi digital masyarakat, peran operator dalam memfilter pola panggilan mencurigakan, serta kolaborasi lintas pihak untuk membangun basis data spam nasional.

Fenomena ini menunjukkan bahwa kewaspadaan sederhana dari masyarakat dapat menjadi pertahanan utama dalam menghadapi kejahatan digital yang semakin berkembang. (Nicko)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *