Seruan tersebut menjadi salah satu pemantik semangat perlawanan rakyat dalam mempertahankan kemerdekaan, yang kemudian mencapai puncaknya dalam peristiwa 10 November 1945 dan diperingati sebagai Hari Pahlawan.
“Sejarah mencatat dengan tinta emas bahwa ketika kedaulatan bangsa terancam, seruan perlawanan sangat dahsyat lahir dari dinding-dinding pesantren, digelorakan oleh kaum sarungan, dan dihidupi oleh jiwa para santri,” ujar Nasaruddin.
Ia menegaskan, perjuangan santri pada masa lalu perlu dilanjutkan melalui pengabdian, karya, dan kontribusi nyata bagi masyarakat.
Karena itu, pesantren dinilai perlu terus diperkuat agar tidak hanya menjadi pusat pendidikan agama, tetapi juga mampu menjawab tantangan perkembangan teknologi, kebutuhan dunia kerja, dan perubahan sosial.
Ini 5 Program Kemenag untuk Masa Depan Santri
- SAFESANTRI, Perkuat Keamanan Lingkungan Pesantren
Program pertama adalah SAFESANTRI, yang dirancang untuk memastikan pesantren menjadi lingkungan pendidikan yang aman, nyaman, dan ramah bagi seluruh santri.
Kemenag juga membentuk Satuan Tugas (Satgas) SAFESANTRI yang diluncurkan pada peringatan Hari Santri 2026. Satgas ini disiapkan untuk memperkuat upaya pencegahan kekerasan, menyediakan mekanisme pengaduan, memberikan pendampingan, serta mempercepat penanganan persoalan yang terjadi di lingkungan pesantren.
Sejumlah tokoh pesantren disebut telah menyatakan kesediaan untuk terlibat, salah satunya Gus Kautsar.




