Mengutip PwC AI Jobs Barometer 2026 yang dirilis pada Juli 2026 menunjukkan bahwa kebutuhan terhadap keterampilan AI meningkat pesat. Lowongan kerja yang membutuhkan keterampilan AI spesifik tumbuh hampir delapan kali lebih cepat dibandingkan pertumbuhan pasar kerja secara keseluruhan dalam analisis tersebut.
PwC juga menemukan bahwa pekerja dengan keterampilan AI memperoleh premi upah rata-rata sebesar 62 persen dibandingkan pekerja pada posisi pembanding dalam analisisnya. Angka itu merupakan temuan agregat dan bukan jaminan bahwa setiap orang yang menguasai AI otomatis mendapatkan kenaikan gaji serupa.
Temuan tersebut memperlihatkan bahwa kemampuan menggunakan teknologi dapat menjadi nilai tambah dalam persaingan kerja. Namun, keterampilan teknis saja tidak cukup.
Kemampuan mengambil keputusan, berpikir kritis, berkomunikasi, memecahkan masalah, dan memahami kebutuhan pelanggan tetap dibutuhkan. AI dapat membantu menyusun analisis atau menghasilkan draf pekerjaan, tetapi manusia tetap harus menilai ketepatan hasilnya dan menentukan tindakan yang sesuai.
Perubahan ini juga berpotensi memengaruhi pekerja pemula. Sejumlah tugas administratif, penyusunan dokumen, riset dasar, dan pengolahan informasi yang sebelumnya menjadi bagian dari proses belajar di tempat kerja kini dapat dibantu oleh AI.
Karena itu, pekerja baru perlu membangun keterampilan yang lebih luas. Mereka tidak cukup hanya mengandalkan kemampuan menyelesaikan tugas rutin, tetapi juga perlu memahami alasan di balik pekerjaan, memeriksa hasil teknologi, serta menunjukkan kemampuan beradaptasi.





