KITAINDONESIASATU.COM – Presiden Prabowo Subianto menegaskan program Makan Bergizi Gratis (MBG) bukan sekadar pembagian makanan, tetapi memiliki peran penting bagi masyarakat yang tengah menghadapi kondisi ekonomi sulit.
Pernyataan itu disampaikan Prabowo setelah Bupati Nagekeo, Nusa Tenggara Timur (NTT), Simplisius Donatus meminta agar program MBG tetap dilanjutkan di wilayahnya.
Permintaan tersebut disampaikan dalam rapat koordinasi penanganan dampak gempa bumi yang berlangsung di Markas Batalyon Teritorial Pembangunan (Yon TP) 834/Wakanga Mere, Desa Tonggurambang, Mbay, NTT, Rabu (26/8).
Prabowo mengatakan manfaat satu porsi makanan bergizi mungkin terasa biasa bagi masyarakat yang berkecukupan. Namun, ceritanya bisa sangat berbeda bagi keluarga yang harus bertahan dalam kondisi serba kekurangan selama berhari-hari.
“Kalau untuk orang yang mampu, satu porsi makanan itu tidak ada artinya. Tapi untuk mereka yang dalam keadaan susah, dan susahnya juga berhari-hari,” ujar Prabowo dalam siaran Sekretariat Presiden yang dipantau secara daring di Jakarta.
Menurut Prabowo, dampak MBG justru sangat terasa bagi masyarakat kurang mampu. Makanan bergizi yang diberikan secara rutin dinilai dapat membantu memenuhi kebutuhan dasar, terutama bagi anak-anak dan ibu.
Presiden pun mengungkapkan dirinya kerap mendengar kisah masyarakat yang pernah merasakan hidup dalam keterbatasan sejak kecil. Tak sedikit yang mengaku harus berangkat ke sekolah dalam keadaan lapar dan bahkan pulang tanpa mendapat makanan yang cukup.
Pengalaman tersebut menjadi salah satu alasan Prabowo melihat persoalan pemenuhan gizi sebagai hal yang tidak bisa dianggap sepele.
Kini, kata dia, perhatian harus diarahkan kepada generasi yang sedang tumbuh, terutama anak-anak.
“Syukur dia sudah lulus, tapi sekarang yang kita mikir adalah ibu-ibu dan anak-anak, ya. Jadi MBG berperan,” katanya.
Prabowo juga menilai manfaat MBG berpotensi semakin besar jika berjalan beriringan dengan penguatan ekonomi masyarakat. Ia menyinggung peran Koperasi Desa Merah Putih serta pengembangan desa-desa nelayan sebagai bagian dari upaya memperkuat kesejahteraan warga.
Dukungan terhadap keberlanjutan MBG juga datang dari Bupati Nagekeo, Simplisius Donatus. Ia mengaku melihat sendiri sejumlah perubahan positif sejak program tersebut berjalan di wilayahnya.
Simplisius bahkan melakukan survei secara nonformal dengan melibatkan para guru di sekolah-sekolah penerima MBG. Hasilnya disebut menunjukkan angka kehadiran siswa yang nyaris menyentuh 100 persen.
“Saya minta mereka survei kehadiran siswa, nyaris 100 persen Bapak, siswa yang di mana ada jatah MBG itu nyaris 100 persen tingkat kehadirannya,” ujar Simplisius.
Bukan hanya soal kehadiran siswa, program tersebut menurutnya juga memberikan efek ekonomi bagi keluarga penerima manfaat.
Warga yang terlibat dalam penyediaan makanan MBG mendapatkan penghasilan dari aktivitas tersebut.
Perputaran ekonomi ini dinilai ikut membantu meningkatkan kondisi rumah tangga masyarakat.
Menariknya, Simplisius mengaitkan dampak ekonomi tersebut dengan kondisi sosial di masyarakat. Ia menyebut adanya penurunan kasus kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) di wilayahnya.
Dengan berbagai dampak tersebut, Bupati Nagekeo meminta pemerintah memastikan program MBG tetap berlanjut. (*)





