KITAINDONESIASATU.COM – Eskalasi konflik bersenjata antara Iran dan Israel telah memicu guncangan hebat di pasar energi global. Pada perdagangan Senin (9/3/2026), harga minyak mentah dunia resmi menembus level 100 dolar AS per barel, sebuah rekor tertinggi yang pertama kali dicapai kembali sejak tahun 2022. Lonjakan ini dipicu oleh kekhawatiran pasar akan gangguan jalur distribusi minyak di Selat Hormuz yang menjadi urat nadi energi dunia.
Menanggapi situasi yang memanas, Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengeluarkan pernyataan yang memancing perdebatan luas. Ia menyebut kenaikan harga minyak yang drastis ini sebagai “harga kecil yang harus dibayar demi perdamaian.”
Di tingkat domestik berbagai negara, tembusnya angka 100 dolar AS ini memicu kekhawatiran akan terjadinya inflasi besar-besaran. Biaya transportasi dan logistik diprediksi akan meroket, yang secara langsung akan berdampak pada kenaikan harga kebutuhan pokok masyarakat.
Para analis energi memperingatkan bahwa jika ketegangan di Timur Tengah tidak segera mereda, harga minyak berpotensi terus merangkak naik melampaui prediksi awal.
Dunia internasional kini menanti langkah konkret dari negara-negara produsen minyak utama untuk menstabilkan pasokan. Sementara itu, pelaku pasar tetap dalam posisi waspada tinggi terhadap setiap perkembangan militer di kawasan tersebut yang dapat mengubah peta ekonomi global dalam waktu singkat.





