Namun, Kementerian Luar Negeri Iran memberikan nada yang lebih hati-hati, menyatakan bahwa meskipun banyak hal telah diselesaikan, belum ada kesepakatan final yang ditetapkan secara resmi.
Konflik yang melatarbelakangi bocoran MOU Iran-AS ini bermula pada 28 Februari lalu, ketika sebuah serangan mematikan menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei.
Tragedi ini memicu gelombang pembalasan dendam dari Teheran dan berujung pada blokade ketat di Selat Hormuz yang mencekik pasokan energi global dan memicu ketegangan luar biasa.
Kabar potensi gencatan senjata ini langsung disambut euforia oleh pasar keuangan global. Indeks saham dan harga aset berisiko langsung meroket seiring dengan harapan memudarnya perang.
Namun, para analis tetap mewaspadai klaim-klaim masa lalu. Donald Trump sendiri tercatat pernah membuat klaim tentang “kesepakatan yang hampir terjadi” sebanyak 39 kali menurut hitungan para pengamat, yang menambah tingkat kehati-hatian investor sebelum uang benar-benar mengalir deras.
Berdasarkan data analisis pasar komoditas global pada kuartal II 2026, setiap rumor kredibel mengenai pencabutan blokade di jalur maritim vital Timur Tengah terbukti mampu menurunkan volatilitas harga minyak mentah hingga 15% dan memicu reli pasar saham emerging markets secara signifikan dalam hitungan jam.
Fakta ini menjelaskan mengapa bocoran MOU Iran-AS langsung menjadi katalis positif bagi ekonomi dunia yang sedang lesu akibat perang.
