KITAINDONESIASATU.COM – Penetapan Bandara Bersujud, Batulicin, sebagai bandara internasional melalui Keputusan Menteri Perhubungan Nomor KM 38 Tahun 2025 diharapkan menjadi pemicu pertumbuhan ekonomi Tanah Bumbu. Status baru ini membuka peluang lebih besar bagi masuknya investasi, perdagangan, dan wisatawan mancanegara ke Kalimantan Selatan.
Dengan status internasional, pemerintah daerah menargetkan terbukanya rute langsung ke negara-negara mitra dagang utama, sehingga biaya logistik dapat ditekan dan daya saing produk lokal meningkat. Sektor pariwisata, pertambangan, dan perkebunan juga diproyeksikan mendapat dampak signifikan, yang pada gilirannya dapat mendorong penciptaan lapangan kerja dan mempercepat pertumbuhan ekonomi daerah.
Setelah Bandara Syamsuddin Noor, Banjarbaru, dikembalikan statusnya sebagai bandara internasional, kini giliran Bandara Bersujud di Batulicin, Kabupaten Tanah Bumbu, yang resmi ditetapkan sebagai bandara internasional.
Penetapan tersebut tertuang dalam Keputusan Menteri Perhubungan Republik Indonesia Nomor KM 38 Tahun 2025 tentang penggunaan bandar udara yang dapat melayani penerbangan dari dan/atau ke luar negeri. Surat keputusan itu dikeluarkan pada 13 Agustus 2025.
Gubernur Kalimantan Selatan H. Muhidin menyambut positif penetapan ini. Ia menilai, status internasional bagi Bandara Bersujud akan membuka peluang lebih besar bagi pertumbuhan ekonomi dan mobilitas masyarakat di Tanah Bumbu dan sekitarnya.
“Kalau sudah jadi bandara internasional, tentu kita ingin melihat antusiasme masyarakat, baik di ibu kota provinsi, Tanah Bumbu, maupun Kotabaru,” ujarnya, Kamis (14/8/2025).
Dalam keputusan tersebut, Bandara Bersujud yang dikelola pemerintah daerah ditetapkan sebagai bandara internasional dengan syarat melengkapi sejumlah dokumen penting dalam waktu enam bulan. Persyaratan itu meliputi dokumen pertahanan, kepabeanan, keimigrasian, kekarantinaan, serta memastikan koordinasi FAL (facilitation) bandara berjalan optimal.
Muhidin menambahkan, salah satu ketentuan penting adalah jumlah penumpang minimal 5 juta orang per tahun.
“Saat ini baru sekitar 3 juta penumpang. Ke depan, kita harapkan target itu bisa terpenuhi agar potensi bandara ini maksimal,” kata dia.




