Oleh: Dr. Mochammad Mukti Ali, S.T., M.M.
Rektor INABA Bandung
“Tupperware Brands Corporation mengumumkan bisnisnya resmi berhenti di Indonesia setelah beroperasi selama 33 tahun. Pengumuman itu disampaikan usai Tupperware menyatakan bangkrut pada September 2024. “Dengan berat hati, kami mengumumkan bahwa Tupperware Indonesia secara resmi telah menghentikan operasional bisnisnya sejak 31 Januari 2025,” bunyi dari takarir akun Instagram @tupperwareid pada Sabtu, 13 April 2025.” https://www.tempo.co/ekonomi/bangkrut-tupperware-resmi-tutup-bisnisnya-di-indonesia-setelah-beroperasi-33-tahun-1230738
Kebangkrutan Tupperware dapat dianalisis melalui prinsip-prinsip manajemen strategis yang terdiri dari elemen Focus (Fokus), Unique (Unik), Consistency (Konsisten), dan Knowing (Ketahui) pelanggan Anda, dimana Keempat Elemen tersebut dapat menyebabkan strategi harga yang dilakukan bisa diterima pasar atau tidak.
Kejatuhan Tupperware bukan karena kesalahan eksekusi dipasar akan tetapi karena adanya ketidakselarasan strategis di berbagai pilar, antara lain; Tidak beradaptasi dengan pelanggan modern, Kehilangan kendali atas strategi penetapan harganya, dan Menjadi ketinggalan zaman baik dalam produk maupun distribusi.
Ini adalah kasus klasik dari merek lama yang tidak berkembang seiring waktu, keuntungan awal yang kuat yang akhirnya terkikis oleh kurangnya kelincahan, wawasan terkait pelanggan, dan konsistensi dalam menjalankan strategi.
Untuk lebih jelasnya, akan dibahas penyebab kebangkrutan Tupperware berdasarkan analisa 4(empat) elemen utama dalam bisnis yang telah dijelaskan diatas.
Fokus. Tupperware secara historis berfokus pada penjualan langsung melalui kegiatan kelompok atau komunitas yang merupakan nilai jual sangat unik. Namun, seiring waktu, fokus mereka telah berubah saat perusahaan berkembang ke lini produk atau pasar yang berbeda tanpa mempertahankan fokus strategi yang jelas.
Seiring dengan perubahan perilaku konsumen, Tupperware mencoba memperluas ke toko ritel dan platform online, tetapi terlambat dan tanpa strategi yang kohesif yang menyebabkan hilangnya fokus strategi yang telah berhasil dijalankan.
Di beberapa pasar, Tupperware kehilangan akan perilaku pelanggan intinya saat mencoba tumbuh secara internasional untuk memperpanjang operasinya sehingga ekspansi global yang dilakukan justru menyebabkan kegagalan fokus terhadap konsumen lamanya.
Tupperware juga terlalu banyak memperkenalkan varians dari produk yang dibuat (warna, model, dll.) sehingga membingungkan pelanggan dan mengganggu penguatan dari merek yang sudah dibangun hal ini disebabkan karena ketidak fokusan terkait diversifikasi produk.
Dampak dari kegagalan Fokus menyebabkan Identitas merek yang tidak jelas, sumber daya tersebar dalam jumlah sedikit, dan kesulitan bersaing dengan pesaing yang gesit dengan teknologi digital.
Unik. Unique Selling Point (USP) dari Tupperware awalnya sangat menonjol dengan produk tempat berbahan plastik yang inovatif dengan model penjualan langsung. Tupperware pernah sangat berbeda, terkenal dengan tempat berbahan palstik yang tahan lama, inovatif, dan dirancang dengan baik dengan harga yang cukup mahal akan tetapi tetap bisa diterima oleh pasar. Jika mereka gagal berinovasi atau cukup berbeda dari pesaing, USP mereka akan melemah sehingga memengaruhi posisi pasar mereka, menyebabkan harga yang ditawarkan tidak dapat diterima oleh pasar.
Pesaing seperti Rubbermaid, IKEA, Walmart, dan bahkan Dollar Stores menawarkan produk serupa dengan harga yang jauh lebih rendah. Sehingga konsumen lebih memilih produk dengan harga yang lebih murah. Selain itu, inovasi produk Tupperware tidak mengikuti tren keberlanjutan (misalnya, opsi bahan biodegradable atau berbahan kaca) sedangkan pesaing sudah menawarkan produk dengan inovasi terbaru dengan harga byang lebih terjangkau. Tidak seperti pesaing, produk Tupperware tidak mudah terlihat di toko sampai larut malam, membuat brand awareness dari konsumen menjadi rendah dan produk terasa ketinggalan zaman.
Akibatnya, keunikan yang telah dimiliki oleh Tupperware berupa faktor “wow” menjadi lemah dan memudar, sehingga hilang dibenak konsumen serta brand maupun produk Tupperware sudah dianggap tidak mempunyai keunikan lagi oleh generasi sekarang.
