KITAINDONESIASATU.COM- Ratusan massa yang tergabung dalam Front Persaudaraan Islam (FPI) bersama berbagai elemen masyarakat dan majelis taklim se-Kota Bogor menggelar unjuk rasa bertajuk “Aksi 247” di depan Balai Kota Bogor, Jumat, 24 Juli 2026.
Aksi tersebut digelar untuk mendesak Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor serta aparat TNI-Polri agar mengambil langkah tegas dalam menolak keberadaan kelompok Lesbian, Gay, Biseksual, Transgender, dan Queer (LGBTQ), sekaligus memberantas peredaran minuman keras (miras).
Massa Bergerak Usai Salat Jumat
Berdasarkan pantauan di lokasi, massa aksi yang terdiri dari kalangan dewasa hingga remaja, baik pria maupun wanita, mulai melakukan pergerakan setelah melaksanakan ibadah Salat Jumat.
Massa kemudian melakukan konvoi dari kawasan Masjid Raya Kota Bogor menuju Balai Kota Bogor dengan membawa berbagai spanduk berisi penolakan terhadap LGBTQ dan peredaran minuman keras.
Sebuah mobil boks berwarna putih yang telah dimodifikasi dan dilengkapi perangkat sound system tampak dialihfungsikan menjadi panggung komando. Dari atas kendaraan tersebut, para orator secara bergantian menyampaikan aspirasi kepada pemerintah dan aparat.
Meski diwarnai orasi dengan suara lantang, aksi unjuk rasa berlangsung kondusif di bawah penjagaan ketat aparat kepolisian.
Baca Juga: https://kitaindonesiasatu.com/feature/berita-utama/dprd-kota-bogor-perda-perlindungan-anak/
Peserta Aksi Soroti Isu Moral dan Kesehatan Generasi Muda
Salah satu peserta aksi yang merupakan perwakilan dari kalangan ibu-ibu majelis taklim, Jani (50), warga asal Bogor Tengah, mengungkapkan bahwa aksi turun ke jalan tersebut merupakan bentuk keresahan masyarakat terhadap ancaman moral dan kesehatan generasi muda.
“Tujuan kami berharap kepada Pak Wali Kota untuk segera menandatangani peraturan tentang penolakan LGBT. Sebelumnya kami sudah mengajukan, tetapi belum ada tanda tangan dari beliau, maka hari ini kami melaksanakan orasi ini,” ujar Jani saat ditemui di lokasi aksi, Jumat, 24 Juli 2026.
Jani menambahkan, gerakan tersebut bersifat spontanitas dari kalangan masyarakat dan majelis taklim, tanpa mengatasnamakan satu organisasi tertentu. Keresahan tersebut, lanjutnya, dipicu oleh kekhawatiran terhadap tingginya kasus penyebaran HIV di Kota Bogor.
“Bogor ini termasuk tinggi untuk tingkat HIV. Makanya kita takut, kalau kita sekarang tidak berjuang, bagaimana nanti ke depannya untuk anak cucu kita. Kita ingin bangsa ini aman, nyaman, dan diridai oleh Allah,” tegas ibu dua anak tersebut.
Baca juga: https://kitaindonesiasatu.com/news/pemkot-bogor-susun-perwali-p4s
Aksi Disebut Didampingi Sejumlah LBH
Lebih lanjut, Jani menjelaskan bahwa aksi damai tersebut juga didampingi oleh sejumlah Lembaga Bantuan Hukum (LBH) di Kota Bogor. Pendampingan itu dilakukan untuk memastikan setiap aspirasi yang disampaikan tetap berada dalam koridor hukum yang berlaku.
Selain menyampaikan tuntutan kepada pemerintah, Jani juga menyampaikan pesan khusus kepada para orang tua di tengah derasnya arus informasi digital yang dinilai menghadirkan tantangan tersendiri dalam pengawasan dan pendidikan anak.
“Pesannya terutama kepada ibu-ibu, hati-hati kita di dalam mengawasi anak-anak. Karena zaman semakin canggih, bukan berarti tantangan mendidik anak semakin tidak ada, justru semakin banyak,” pungkasnya.





