Desa Kita

Mengulas Sejarah Negara Pasundan dalam 1,500 Kata!

×

Mengulas Sejarah Negara Pasundan dalam 1,500 Kata!

Sebarkan artikel ini
Negara Pasundan
Doc: Wikipedia

Negara Pasundan I

Saat Wakil Gubernur Jenderal Van Mook melakukan tahap-tahap awal pembentukan Indonesia Serikat. Demi ambisi pribadinya, eks Bupati Garut Soeria Kartalegawa yang feodal, dan tidak bersimpatik pada pergerakan nasional, mendirikan Partai Rakyat Pasundan (PRP) di Bogor, atas ide eks Perwira KNIL, Kolonel Santoso, penasehat politik Van Mook. Pelaksanaannya dibantu oleh intel militer Belanda, NEVIS. Tujuan PRP adalah membentuk suatu negara di Jawa Barat yang terpisah dari Republik Indonesia.

Padahal waktu itu, pemerintah Indonesia dan Belanda telah sepakat membentuk negara federasi bernama Republik Indonesia Serikat (RIS) melalui perundingan Linggarjati. Nantinya Jawa Barat akan masuk ke dalam wilayah Republik Indonesia–salah satu negara bagian RIS.

Dalam artikel “Kiprah Partai Rakyat Pasundan Dalam Negara Pasundan 1947-1950” yang ditulis oleh Sugih Rachmat Pangersa (2021), Kartalegawa mendirikan PRP dengan tujuan mencapai kesempurnaan dan kemuliaan Negara Pasundan yang merdeka berdaulat dan berdasarkan demokrasi yang terpisah dari Republik Indonesia.

Namun karena reputasi Kartalegawa sangat buruk, Van der Plas bahkan menjulukinya fraudeur alias koruptor, sehingga bukan ia yang menjadi ketuanya, melainkan Raden Sadikin, pegawai pusat distribusi pangan milik Belanda di Bandung Utara. Sebagai sekretaris dan bendahara, ditunjuk dua orang yang sebelum perang menjadi sopir, dan di Era Pendudukan Jepang menjadi mandor kebun. Keanggotaan dilakukan dengan ‘paksaan halus’.

Selanjutnya Kartalegawa memanfaatkan kedekatannya dengan pihak Belanda untuk mencapai ambisinya. Bahkan PRP melakukan kampanye untuk menggalang dukungan masyarakat Jawa Barat. Saat berkampanye, PRP menggunakan bendera berwarna hijau dan putih yang melambangkan harapan dan kesucian.

Kartalegawa berusaha mewujudkan Negara Pasundan yang merdeka dari Indonesia. Usaha ini didukung Residen Belanda di Bandung, M. Klaassen, yang menulis sebuah laporan, tertanggal 27 Desember 1946. Residen Preanger itu menulis dalam laporannya, bahwa sejak berabad-abad lamanya, terjadi persaingan etnis Sunda-Jawa, akibat perbedaan adat, tradisi, dan mentalitas. Indonesia selalu dipimpin oleh etnis Jawa, maka PRP dipandang sebagai suatu gerakan rakyat yang spontan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *