Bagi Cek Ida, warga asli Palembang yang kini tinggal di Sungailiat, Bangka, Brengkes Tempoyak bukan sekadar makanan, tapi kado nostalgia.
“Setiap kali memasaknya, saya langsung teringat masa kecil, suasana rumah nenek, dan hangatnya keluarga,” katanya.
Aroma tempoyak yang khas langsung membawa memorinya pulang ke kampung halaman. Sementara Dewi, penikmat kuliner Nusantara, mengaku jatuh cinta sejak gigitan pertama.
“Saya suka makanan yang berani dan kaya rasa. Di Brengkes Tempoyak, ada harmoni antara asam tempoyak, pedas cabai, dan gurih ikan—rasanya bikin nagih!”
Mengupas durian
Tempoyak dibuat dengan cara mengupas durian, mencampurnya dengan garam, lalu menyimpannya dalam wadah tertutup selama 3–5 hari hingga fermentasi terjadi. Proses ini menghasilkan rasa asam khas dan aroma tajam yang menjadi jiwa dari masakan ini.
Hidangan ini bukan hanya soal rasa, tapi juga cermin dari kearifan masyarakat pedalaman yang memanfaatkan surplus durian dengan bijak.
Di era modern, Brengkes Tempoyak menjadi simbol ketahanan pangan dan inovasi kuliner tradisional. Ia tetap eksis di meja makan harian, acara keluarga, hingga perayaan adat seperti nyambut anak atau selamatan.




