KITAINDONESIASATU.COM – Di Indonesia daun singkong melimpah, dengan harga murah, bahkan di desa-desa daun sing bisa dijadikan pakan ternak, sebagian dikonsumsi sayuran.
Namun di Vietnam sebagian daun yang ada di pedesaan seperti daun singkong, daun salam, pisang, dan ubi jalar telah menjadi komuditas ekspor populer hingga menghasilkan hampir 9 juta USD dalam 8 bulan.
Dari catatan Departemen Bea Cukai, pada bulan Agustus 2025 saja, omzet ekspor daun ini mencapai hampir 1,2 juta dolar AS, naik 13% dibandingkan periode yang sama.
Dalam 8 bulan pertama, total nilai mencapai sekitar 9 juta dollar AS atau Rp149 miliar, 27% lebih tinggi dibandingkan tahun lalu.
Di antaranya, daun singkong menjadi komoditas utama dengan nilai hampir 3 juta dollar AS, tetapi peningkatan tertinggi terjadi pada daun salam, naik 68,5% dibandingkan periode yang sama.
Daun pisang, lemon, dan ubi jalar juga mencatat peningkatan 20-80%, berkat beragamnya permintaan di bidang kuliner dan pengolahan makanan.
Dang Phuc Nguyen, Sekretaris Jenderal Asosiasi Buah dan Sayur Vietnam mengungkap di antara produk-produk populer, daun singkong memiliki permintaan yang stabil di Jepang, Korea, Taiwan, dan beberapa negara Muslim.
Di sini, jenis daun ini digunakan dalam hidangan kari atau sayuran yang dimasak dengan daging karena kandungan protein dan vitaminnya yang tinggi.
Beberapa perusahaan juga mengekspor daun singkong beku yang dihaluskan – sebuah produk bernilai tambah yang melayani industri pengolahan makanan.
Sementara di Vietnam, daun singkong segar hanya berharga 3.000-5.000 VND atau sekitar Rp1.800 – Rp2.000 per kg, tetapi ketika diekspor, harganya bisa naik 3-4 kali lipat, bahkan hingga 70.000 VND atau Rp44.000 per kg di pasar eceran.
Daun pisang—yang biasanya hanya digunakan untuk membungkus kue dan ketan—kini diekspor sebagai kemasan alami dan ramah lingkungan.
Sementara daun ubi jalar juga telah membuka jalannya sendiri, menjadi sayuran bergizi berkualitas tinggi di Jepang dan Korea.
Meskipun hanya menyumbang sebagian kecil dari total omzet buah dan sayur, daun menawarkan peluang ganda, memanfaatkan produk sampingan pertanian sekaligus memperluas ceruk pasar potensial.
Di sisi lain ekspor buah dan sayur Vietnam kembali meningkat, dengan perkiraan pada bulan September saja mencapai hampir 1,3 miliar dolar AS—nilai tertinggi dibandingkan periode yang sama sejauh ini.
Jika momentum ini dapat dipertahankan, seluruh industri dapat melampaui angka 8 miliar dolar AS tahun ini, jauh lebih tinggi dari rencana awal.
Para ahli pertanian mengatakan bahwa daun-daunan di Vietnam tidak hanya serbaguna tetapi juga memiliki nilai gizi yang tinggi, mengandung banyak protein, mineral, dan asam amino yang membantu regenerasi sel dan meningkatkan daya tahan tubuh.
Penggunaan daun sebagai pengganti kemasan plastik atau rempah-rempah industri juga membantu produk pertanian Vietnam mengikuti tren masakan hijau yang sedang digalakkan secara global. **
