BisnisSejarah

Rias Pengantin Nusantara Terancam Dilupakan, Ini Pesan Tegas Yantie

×

Rias Pengantin Nusantara Terancam Dilupakan, Ini Pesan Tegas Yantie

Sebarkan artikel ini
IMG 20251202 WA0068 scaled
Yantie Rachim memberikan apresiasi pada para perias muda dalam kegiatan Seminar dan Lomba Tata Rias Pengantin menyambut Hari Ibu di Gedung DPRD Kota Bogor (Kis/ist)

KITAINDONESIASATU.COM- Di tengah derasnya tren rias modern yang kian mendominasi industri kecantikan, Ketua Tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (TP PKK) Kota Bogor sekaligus Dewan Pelindung DPC Himpunan Ahli Rias Pengantin Indonesia (HARPI) Melati Kota Bogor, Yantie Rachim, menegaskan pentingnya menjaga identitas budaya melalui pelestarian tata rias pengantin nusantara.

Ia menilai regenerasi perias muda menjadi kunci agar pakem rias tradisional tidak tersisih oleh perkembangan gaya dan selera yang terus berubah.

Penekanan itu disampaikan Yantie usai menghadiri kegiatan Seminar, Lomba, dan Pagelaran Tata Rias Pengantin dalam rangka menyambut Hari Ibu yang digelar DPC HARPI Melati Kota Bogor di Ruang Serbaguna Gedung DPRD Kota Bogor, Jalan Pemuda, Selasa 2 Desember 2025.

Yantie Rachim menyampaikan bahwa profesi perias sejak dulu identik dengan para ibu. Namun, kini semakin banyak generasi muda yang memilih tata rias sebagai jalur kreativitas sekaligus peluang karier yang menjanjikan.

“Perias itu dari dulu kan orangnya biasanya ibu-ibu ya, nah seiring berjalannya waktu, semakin banyak anak muda yang belajar merias, sehingga menjadi make up artist atau MUA. Seiring berjalannya waktu juga bentuk riasan itu semakin simple atau lebih glamor, jadi kadang-kadang suka lupa dengan pakem terdahulu,” ujar Yantie Rachim.

Menurutnya, perkembangan zaman menghadirkan tantangan sekaligus peluang dalam menjaga pakem rias pengantin nusantara. Ia berharap keberadaan HARPI Melati dapat memastikan bahwa nilai-nilai budaya dan pakem rias pengantin terus diwariskan sesuai karakter daerah masing-masing.

“Dengan HARPI mudah-mudahan pakem-pakem dalam tata rias pengantin ini bisa terus dilanjutkan sesuai dengan wilayah masing-masing,” ucapnya.

Yantie juga menyoroti tema seminar ‘Pesona Ibu dalam Harmoni Rias Pengantin Nusantara Modern’ yang dinilainya sangat relevan. Baginya, tema tersebut menggambarkan bahwa peran ibu bukan hanya sebagai pilar keluarga, tetapi juga sosok yang mampu berkarya dan mengembangkan kreativitas dalam beragam bentuk ekspresi seni.

“Bicara mengenai Hari Ibu, marilah kita memperluas perayaan ini menjadi dorongan untuk menambah semangat berkarya, berkreasi, serta mengembangkan diri selaras dengan kodrat kita sebagai perempuan,” katanya.

Ia menegaskan bahwa pelestarian budaya rias pengantin merupakan tanggung jawab besar, terutama di tengah derasnya arus budaya asing yang mudah diakses oleh generasi muda.

“Di tengah gempuran pergeseran nilai makna rias pengantin, HARPI Melati harus terus hadir dan mampu menguatkan. Pelestarian budaya pengantin adalah amanah besar, setiap karya yang lahir adalah bentuk cinta pada tradisi dan budaya. Untuk itu, penting dilakukan regenerasi pelaku seni agar warisan budaya tidak berhenti di generasi kita,” tegasnya.

Sementara itu, Ketua DPC HARPI Melati Kota Bogor, Nova Fitria, mengapresiasi antusiasme peserta dan menegaskan peran strategis organisasi dalam menjaga eksistensi rias pengantin tradisional di tengah perkembangan industri kecantikan yang sangat kompetitif.

“HARPI Melati adalah organisasi profesi untuk para ahli tata rias pengantin profesional di seluruh Indonesia dengan tujuan melestarikan dan mengembangkan budaya rias pengantin tradisional nusantara,” jelasnya.

Nova menyebutkan bahwa seminar yang digelar dalam rangka menyambut Hari Ibu ini memiliki makna kuat, yakni menggambarkan sosok ibu sebagai sumber kehangatan, kekuatan, kecantikan, kearifan, sekaligus inspirasi dalam perkembangan rias pengantin nusantara.

Ia menambahkan bahwa dunia rias pengantin saat ini dituntut tidak hanya mempertahankan keaslian tradisi, tetapi juga adaptif terhadap kebutuhan komersial tanpa kehilangan ruh budaya.

“Pada era modern, tugas kami bukan hanya mempertahankan warisan budaya, tetapi juga merangkainya secara harmonis. Melalui seminar ini, saya ingin memperlihatkan keindahan tradisi yang tetap bisa bersaing secara komersial,” pungkas Nova. (Nicko)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *